Articles on Banjir
Displaying 1 - 20 of 59 articles
Fatalisme bukanlah karakter bawaan masyarakat. Sikap tersebut sering kali terbentuk akibat kegagalan sistem mitigasi dan absennya negara.
Nasib para pengemudi ojol semakin rentan akibat cuaca ekstrem. Sementara algoritma platform buta iklim.
Anak-anak dan kaum muda sebenarnya peka terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka. Namun, tidak semua anak dan kaum muda menyebut pengalaman itu sebagai ketidakadilan iklim. Mengapa?
CC BY46.5 MB (download)
Anak-anak dan orang muda, terutama dari masyarakat miskin, adalah kelompok paling terdampak krisis iklim. Mereka akan mengalami fenomena slow onset climate change, di mana dampak perubahan iklim tidak langsung terasa sekaligus, tetapi terjadi sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang panjang.
Modifikasi cuaca melalui penyemaian awan biasanya dilakukan untuk memindahkan hujan ke daerah ‘aman’. Tapi efektivitasnya diragukan. Dan sejauh ini pemerintah belum terlihat memperhitungkan dampaknya ke nelayan dan petani daerah tersebut yang mengandalkan kepastian cuaca untuk mencari nafkah.
Ketika pemerintah tak bisa diandalkan dalam mitigasi banjir, apa yang harus dilakukan warga untuk mencegah penularan penyakit?
Indonesia tidak kekurangan strategi adaptasi menghadapi krisis iklim. Namun kebijakan adaptasi iklim masih saja ‘top-down’, belum mengakui dan melibatkan praktik komunitas.
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pemerintah tak cukup hanya sekadar mencabut izin perusahaan penyebab banjir Sumatra, perlu reformasi tata kelola dan memastikan pemulihan lingkungan sepenuhnya.
Lumpur dan sedimen sisa banjir sering dibuang kembali ke sungai, padahal praktik ini membuat sungai semakin dangkal dan memperbesar risiko banjir berulang.
Seribu lebih nyawa melayang di tengah anggaran bencana Sumatra yang tekor 15 kali lipat. Pemerintah gagap, dana darurat diabaikan, namun bantuan asing tetap ditolak. Mismanajemen berisiko membawa Sumatra ke ambang krisis kemanusiaan.
Dalam situasi bencana, kampus bisa berperan bukan sekadar di tahap edukasi dan kesiapsiagaan, tetapi juga pada fase tanggap darurat.
Indonesia tidak lagi bebas siklon tropis. Kita membutuhkan sistem peringatan dini serta mitigasi bencana yang lebih serius.
Badai tropis Ditwah dan Senyar menunjukkan bahwa kita harus bersiap menghadapi badai yang memiliki angin lemah tetapi membawa curah hujan yang ekstrem.
Apakah kemeriahan Harbolnas dan perjalanan wisata yang mencapai puncaknya di akhir tahun ini bisa sama seperti tahun-tahun sebelumnya?
Banjir Sumatra nyaris nihil kepemimpinan negara. Ribuan relawan turun, tapi negara justru seperti tak hadir sebagai otoritas. Apa dampaknya jika tanggap darurat dibiarkan tanpa arah?
Saat respons pemerintah terhadap bencana lambat, warga harus lebih siaga. Ada banyak aplikasi dan data satelit yang bisa diakses secara gratis untuk memantau kondisi sekitar.
Dalam situasi krisis, publik memilih jalur yang memberikan rasa kepastian paling cepat. ‘Influencer’ menawarkan hal tersebut.
Deklarasi bencana nasional yang lebih dini penting untuk respon yang akuntabel dan komitment untuk pemulihan ekologis, infrastruktur, dan ekonomi yang berkelanjutan.
Banjir di Sumatra bukan semata bencana alam. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan proyek ekstraktif memperburuk bencana. Keputusan politik ikut menciptakan bencana.



















