Articles on Banjir Sumatra
Displaying 1 - 20 of 34 articles
Konflik GAM yang berlangsung selama puluhan tahun di Aceh berakhir pascatsunami dahsyat 2004. Namun, wacana kemerdekaan kini kembali mencuat.
Fatalisme bukanlah karakter bawaan masyarakat. Sikap tersebut sering kali terbentuk akibat kegagalan sistem mitigasi dan absennya negara.
Aceh memiliki warisan hukum adat dan turats yang mengajarkan pelestarian alam–perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi krisis lingkungan dan bencana.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Idulfitri di depan mata, tapi warga Aceh masih bergelut dengan lumpur dan banjir. Mengapa rencana pemulihan bernilai triliunan rupiah tak kunjung membuat rakyat merasa aman di rumah sendiri?
Inilah ‘toxic masculinity’, ketika pemerintah merasa jadi ‘bapak’ yang berusaha keras mengendalikan semuanya, padahal kapasitas materialnya dalam melindungi warga dipertanyakan.
Transisi energi harus segera dilaksanakan sebelum semuanya terlambat. Pendekatan berbasis komunitas bisa menjadi solusinya.
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pemerintah tak cukup hanya sekadar mencabut izin perusahaan penyebab banjir Sumatra, perlu reformasi tata kelola dan memastikan pemulihan lingkungan sepenuhnya.
Bencana bukanlah peristiwa netral gender. Perempuan tetap jadi kelompok paling terdampak, tapi tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.
Lumpur dan sedimen sisa banjir sering dibuang kembali ke sungai, padahal praktik ini membuat sungai semakin dangkal dan memperbesar risiko banjir berulang.
Masjid bisa dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan darurat ketika faskes lumpuh.
Kita memiliki sumber dana potensial yang besar dari ekonomi islami atau syariah untuk menanggulangi dan memulihkan kawasan bencana banjir bandang Sumatra.
Seribu lebih nyawa melayang di tengah anggaran bencana Sumatra yang tekor 15 kali lipat. Pemerintah gagap, dana darurat diabaikan, namun bantuan asing tetap ditolak. Mismanajemen berisiko membawa Sumatra ke ambang krisis kemanusiaan.
Dalam situasi bencana, kampus bisa berperan bukan sekadar di tahap edukasi dan kesiapsiagaan, tetapi juga pada fase tanggap darurat.
Klaim pemerintah ihwal alokasi anggaran pendidikan terbesar tahun 2026 perlu dibantah. Sebab sebagian besar anggarannya dialokasikan untuk program MBG.
Indonesia tidak lagi bebas siklon tropis. Kita membutuhkan sistem peringatan dini serta mitigasi bencana yang lebih serius.
Pemadaman listrik akibat Siklon Senyar bikin Aceh lumpuh. Komunikasi mati, layanan publik kacau, ekonomi harian hancur. Krisis energi berubah jadi bencana baru berantai yang melumpuhkan segalanya.
Ketika badai Senyar melanda Aceh, warkop menjadi satu-satunya titik yang berpenerang, sekaligus menjadi ruang di mana koneksi sosial yang terputus perlahan tersambung kembali.
Badai tropis Ditwah dan Senyar menunjukkan bahwa kita harus bersiap menghadapi badai yang memiliki angin lemah tetapi membawa curah hujan yang ekstrem.



















