Articles on krisis iklim
Displaying 1 - 20 of 133 articles
Sebagian besar emisi karbon berasal dari perusahaan dan sektor industri berbasis bahan bakar fosil (seperti minyak, gas, batu bara, dan semen), sehingga perubahan perilaku individu saja—misalnya membawa tumbler—tidak cukup menyelesaikan masalah.
Tanpa standar yang jelas, pengguna akan sulit membedakan antara komitmen lingkungan yang serius dan promosi hijau yang dangkal.
Anak-anak dan kaum muda sebenarnya peka terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka. Namun, tidak semua anak dan kaum muda menyebut pengalaman itu sebagai ketidakadilan iklim. Mengapa?
CC BY46.5 MB (download)
Anak-anak dan orang muda, terutama dari masyarakat miskin, adalah kelompok paling terdampak krisis iklim. Mereka akan mengalami fenomena slow onset climate change, di mana dampak perubahan iklim tidak langsung terasa sekaligus, tetapi terjadi sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang panjang.
Variabel-variabel seperti kondisi geopolitik, perkembangan teknologi, faktor lingkungan, ancaman perang dan wabah penyakit sudah tak bisa lagi disepelekan.
Perempuan dan orang muda di pesisir kerap diselebrasi karena ketangguhannya menghadapi krisis iklim. Namun, di balik resiliensi itu, terdapat ketimpangan, eksklusi, dan keterpaksaan untuk bertahan.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Indonesia tidak kekurangan strategi adaptasi menghadapi krisis iklim. Namun kebijakan adaptasi iklim masih saja ‘top-down’, belum mengakui dan melibatkan praktik komunitas.
Persoalan suhu panas di permukiman tidak bisa diselesaikan dengan mengganti atap (gentengisasi). Solusi alternatif lebih murah dan efektif adalah teknologi atap dingin seperti cat reflektif, ditambah penanaman pohon dan menambah ruang hijau.
Indonesia menghadapi kesenjangan besar dalam pendanaan untuk menghadapi krisis iklim. Sementara itu, bantuan dana iklim global yang sudah tersedia pun belum benar-benar mengalir sampai ke tapak.
Mencairnya es, permafrost, dan runtuhnya dinding fjord hanyalah beberapa dampak perubahan iklim yang dirasakan warga Greenland.
Kesepakatan memang tercapai, tetapi beberapa elemen penting justru hilang dalam COP 30.
Di COP30, mekanisme implementasi dana loss and damage diharapkan lebih jelas dan adil bagi negara miskin yang paling terdampak krisis iklim.
Warga Muara Gembong buktikan mangrove tidak hanya penting untuk konservasi, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat.
RUU Perubahan Iklim butuh instrumen analisis biaya-manfaat. Instrumen ini penting untuk menilai apakah suatu rencana kebijakan lebih banyak untung atau ruginya.
Banjir adalah satu dampak dari buruknya kebijakan politik. Rakyat pantas demonstrasi jika kebijakan tak berpihak kepada publik.
Di tengah krisis iklim yang semakin parah, semua kearifan lokal sangat penting – termasuk ajaran Islam yang memberikan panduan untuk hidup harmonis dengan alam.
Menjelang COP 30, sejumlah negara belum juga menyerahkan pembaruan aksi iklim nasional atau second NDC kepada UNFCC, ternasuk Indonesia.
Bumi tinggal menghitung waktu, demikian kata riset terbaru. Dunia harus berhenti membakar fosil dan mengambil langkah mendesak untuk mengurangi pemanasan global.
Studi baru menunjukkan bagaimana polusi udara bisa secara tidak sengaja menekan laju pemanasan global. Ketika selubung itu hilang, maka suhu Bumi meningkat.



















