Articles on kesenjangan gender
Displaying all articles
Meskipun perjuangan kesetaran gender di era Prabowo akan melalui jalan yang terjal, namun masih ada secercah harapan.
Perempuan masih terpinggirkan dalam kegiatan perekonomian. Pemerintah perlu menyusun kerangka ekonomi peka gender untuk memberdayan potensi mereka.
Di Indonesia, kesenjangan upah gender masih tinggi dan kontribusi pendapatan perempuan ke perekonomian terus stagnan. Ini membuat potensi pertumbuhan ekonomi tak maksimal.
Bak detektif, Claudia Goldin menelaah data dua abad perkembangan ketenagakerjaan AS untuk menjelaskan fenomena soal kesenjangan gender.
Tanggung jawab untuk menciptakan kesetaraan gender di tempat kerja awalnya dibebankan pada perempuan, padahal laki-laki memiliki peran penting untuk mewujudkannya.
Laki-laki merasa lebih menderita jika pasangannya (perempuan) menjadi satu-satunya yang mencari nafkah.
Dalam hal peran diplomasi, negara-negara di Asia masih memiliki kesenjangan gender yang relatif tinggi dan belum mencapai paritas gender.
Mansplaining bisa menyebabkan rendahnya komitmen organisasional dan kepuasan kerja, keinginan berpindah kerja yang tinggi, serta kelelahan emosional dan tekanan psikologis.
Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki tak kunjung mengalami perbaikan. Tingkat pendidikan yang selama ini dianggap biang keladi ternyata bukan satu-satunya alasan.
Penelitian kami tentang peranan ilmuwan perempuan dalam ilmu tanah menunjukkan bahwa bidang ini bukan lagi hanya bidang milik laki-laki.
Dalam lema-lema yang berkaitan dengan gender, bahasa Indonesia kental dengan patriarki dan misogini.
Variabilitas laki-laki lebih besar pertama kali diusulkan sebagai penjelasan untuk superioritas laki-laki pada era 1800, dan pemikiran tersebut tidak pernah hilang.











