Articles on Perempuan
Displaying 1 - 20 of 158 articles
Sosok perempuan dalam Odyssey karya Homer digambarkan cerdik, penuh hasrat, dan berkuasa. Adaptasi Nolan justru mengubah mereka menjadi figur yang sarat penderitaan, pengorbanan, dan penyesalan.
Riset membuktikan bahwa praktik agroforestri yang sesuai konteks lokal dan peka gender mampu memperkuat ketangguhan sosio-ekologis warga pulau kecil.
Conversation Corner edisi ke-12 membahas partisipasi perempuan di bidang STEM
Risiko kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng akibat program B50 akan menambah beban perempuan di aspek konsumsi.
Perempuan dan orang muda di pesisir kerap diselebrasi karena ketangguhannya menghadapi krisis iklim. Namun, di balik resiliensi itu, terdapat ketimpangan, eksklusi, dan keterpaksaan untuk bertahan.
Kamasutra menegaskan bahwa kualitas hubungan seksual hanya dapat dicapai melalui komunikasi yang efektif dan saling pengertian. Dalam hal ini, ‘consent’ menjadi kunci utamanya.
Platform berbasis AI menarik tenaga kerja informal ke dalam ekonomi digital global, tapi melimpahkan risiko dan tanggung jawab ke pekerja. Seringnya, perempuan yang memikul beban terberat.
Dari dapur, perempuan di Poso membangun gerakan untuk memperjuangkan nasib masyarakat di sekitar Danau Poso.
Bencana bukanlah peristiwa netral gender. Perempuan tetap jadi kelompok paling terdampak, tapi tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.
Pemerintah harus benahi MBG jika ingin menjaga kepercayaan publik terhadap tata kelola duit negara yang naik jadi Rp335 triliun pada tahun 2026 mendatang.
Meski perempuan semakin berpendidikan dan semakin banyak yang bekerja, kontrol ekonomi tetap mengakar dalam praktik kehidupan rumah tangga yang masih patriarkis.
Teknologi memungkinkan perempuan berbagi ilmu, atau meneruskan minatnya di sektor perikanan ke perempuan lainnya.
Ayah juga bisa mengalami trauma setelah menyaksikan ibu melahirkan. Namun, masyarakat cenderung mengabaikan dampak psikologis yang dialami laki-laki.
Perempuan Bali membawa Śakti, energi feminin yang dipercaya memberi kehidupan. Namun, aspek pariwisata tetap menonjolkan eksotisasi tubuh perempuan.
Jika dibiarkan, perempuan menikah akan terus menjadi kelompok “cadangan” dalam dunia kerja — dipanggil saat dibutuhkan, ditinggalkan saat krisis.
Meski negara mengembalikan hutan adat kepada masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta, kerusakan hutan akibat eksploitasi PT TPL sudah terlanjur menghancurkan ekosistem.
Ketegangan emosional akibat hubungan tidak harmonis dapat picu stres, kecemasan, bahkan depresi—terutama jika perempuan merasa terisolasi tanpa dukungan sosial.
Sudah banyak upaya yang beritikad baik untuk melibatkan perempuan muda. Sayangnya, mereka belum sepenuhnya didengarkan, dipahami, dan diberikan ruang aman untuk berbicara.
Makna ganda “selain donatur, dilarang ngatur”: upaya perempuan menetapkan batas atas tubuhnya, namun mensyaratkan perempuan tunduk pada pihak yang “mendanai”.
Tulisan ini meninjau resiliensi perempuan dalam menghadapi kerusakan lingkungan akibat ekspansi tambak yang masif di wilayah pesisir Muara Gembong.


















