Articles on Hutan
Displaying 1 - 20 of 67 articles
Menilai hubungan kekerabatan antarspesies membutuhkan upaya tambahan. Namun, riset kami terhadap 422 spesies burung di 1.410 titik mengungkapkan bahwa informasi itu amat berharga karena memberikan gambaran lebih mendalam: seberapa banyak sejarah evolusi yang sebenarnya sedang kita lindungi.
Berbagai tekanan terjadi secara bersamaan dan mengancam kelangsungan hidup orangutan Tapanuli—mulai dari industri ekstraktif, penebangan hutan, perluasan lahan pertanian, hingga perubahan iklim.
Modernisasi, kebijakan negara, dan dominasi agama mayoritas membuat kepercayaan Aluk Todolo, warisan leluhur penjaga alam, hilang perlahan.
Papua mulai menunjukkan gejala menjadi “bentang-kebakaran” baru. Banyak titik api muncul di kawasan PSN energi dan food estate.
Di tahun 2026 ini kita menghadapi ancaman Super El Niño dan Karhutla. Kerjasama di akar rumput, antar para pihak sangat diperlukan untuk mengatasinya. Kalau tidak, karhutla hebat seperti di tahun 2015 dan 2019 bisa terulang kembali.
Pengetahuan tentang obat tradisional di Berbak kini terancam hilang. Butuh transformasi pendidikan dan ekonomi untuk melestarikannya.
CC BY52 MB (download)
Proyek food estate & energy estate di merauke Papua Selatan, berpotensi melipatgandakan kontribusi emisi global indonesia. Dengarkan selengkapnya di Suar Akademia
Masyarakat sekitar hutan konservasi Lingga Isaq menjadi korban warisan konservasi era Belanda yang meminggirkan warga. Padahal, jika mereka dilibatkan, warga bisa lebih mendapat keuntungan dari pertanian ramah lingkungan dan menjaga hutan. Sudah banyak riset yang membuktikan hal ini.
Ekonomi ekstraktif di Indonesia secara konsisten meminggirkan masyarakat lokal—dari penggusuran, hilangnya akses hidup, hingga dampak kesehatan dan lingkungan. Kekayaan SDA dinikmati perusahaan dan elite, sementara warga sekitar tetap hidup dalam kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan yang terus berulang.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Agar EUDR berhasil, penundaan ini harus menjadi pendorong bagi reformasi politik dan praktis — sehingga membuka jalan bagi kemajuan yang nyata bagi hutan, petani, serta perdagangan yang benar-benar transparan dan adil.
Seorang pekerja perkebunan memotret spesies mamalia baru ini di Papua Nugini, yang diyakini telah punah selama 6.000 tahun.
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pemerintah tak cukup hanya sekadar mencabut izin perusahaan penyebab banjir Sumatra, perlu reformasi tata kelola dan memastikan pemulihan lingkungan sepenuhnya.
Banjir dan longsor bukan hanya akibat hujan ekstrem, tetapi karena ekosistem yang rusak akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.
Di desa-desa terpencil di Borneo, penduduk setempat mendapatkan penghasilan dengan merekam satwa liar — mengubah paradigma konservasi.
COP 30 seakan mencerminkan bahwa dunia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berdiplomasi. Padahal, peluang untuk mencegah krisis tak terpulihkan akibat perubahan iklim semakin sempit.
IEU-CEPA membuka akses ekspor besar bagi Indonesia, namun menuntut reformasi menyeluruh pada tata kelola industri, agar sesuai dengan standar Uni Eropa.
Dengan masuk ke pasar karbon global, Indonesia berpotensi terjebak menjadi penyedia jasa lingkungan murah untuk menghapus dosa-dosa iklim negara maju.
Sejak era Soeharto hingga Prabowo, proyek ‘food estate’ selalu gagal, dan justru mewariskan jejak panjang kerugian lingkungan, sosial serta ekonomi.


















