Articles on Masyarakat adat
Displaying 1 - 20 of 67 articles
Warga Sagea tak perlu berlelah-lelah turun ke jalan apabila pemerintah bisa berpikir lebih keras untuk menggenjot ekonomi berbasis pertanian dan perikanan warga yang potensinya senilai Rp75,9 triliun.
Konflik pembangunan dan masyarakat adat bukan soal antikemajuan, melainkan hak menentukan tanah.
Karhutla bukan sekadar krisis musiman, melainkan penaklukan ruang hidup. Ia mengkriminalisasi kearifan lokal berladang dan mengubah fungsi rumah warga menjadi tempat pengisolasian yang menyesakkan.
Masyarakat adat rentan terkena berbagai penyakit akibat kehilangan ruang hidup. Mereka perlu mendapatkan layanan kesehatan yang lebih adil.
Modernisasi, kebijakan negara, dan dominasi agama mayoritas membuat kepercayaan Aluk Todolo, warisan leluhur penjaga alam, hilang perlahan.
UU Konservasi digugat ke MK karena masih mempertahankan gaya terpusat yang ujungnya bisa memicu kriminalisasi dan penggusuran warga.
Bambu adalah fondasi peradaban Ngada. Sayangnya, modernisasi telah membuat pengetahuan dan budaya bambu Ngada semakin terkikis.
Program CSR perusahaan tambang kerap tidak bermanfaat bagi masyarakat adat. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakjelasan definisi masyarakat adat.
Ekonomi ekstraktif di Indonesia secara konsisten meminggirkan masyarakat lokal—dari penggusuran, hilangnya akses hidup, hingga dampak kesehatan dan lingkungan. Kekayaan SDA dinikmati perusahaan dan elite, sementara warga sekitar tetap hidup dalam kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan yang terus berulang.
Kesepakatan memang tercapai, tetapi beberapa elemen penting justru hilang dalam COP 30.
Wariga memandu Bayan berabad-abad, tapi Indonesia abaikan sistem adaptasi iklim ini. Negara lain sudah integrasikan pengetahuan indigenous serupa
Dengan masuk ke pasar karbon global, Indonesia berpotensi terjebak menjadi penyedia jasa lingkungan murah untuk menghapus dosa-dosa iklim negara maju.
Mitos yang bersumber dari pengetahuan lokal sering dianggap tidak rasional, namun perlu pendekatan tertentu untuk memaknainya agar mendapatkan pesan yang relevan.
Sejak era Soeharto hingga Prabowo, proyek ‘food estate’ selalu gagal, dan justru mewariskan jejak panjang kerugian lingkungan, sosial serta ekonomi.
Beberapa elemen Pranata Mangsa tidak dapat diukur secara ilmiah, khususnya yang terkait ritual dan kepercayaan masyarakat
Sebelum ada MSG, orang Dayak Kalimantan Tengah pakai penyedap rasa alami berbahan daun sungkai dan teken parei. Mengapa keduanya kini jarang digunakan?
Keberlanjutan praktik adat sasi bergantung pada relevansinya bagi masyarakat, bukan sekadar romantisasi tradisi.
Program co-firing biomassa yang diakselerasi lewat Hutan Tanaman Energi ternyata tidak mampu membuat Indonesia beranjak dari ketergantungannya pada batu bara.
Ekspresi politik lokal marak terjadi di Pilkada, biasanya lebih kepada loyalitas pada tetua sebagai sosok dihormati.
Meski negara mengembalikan hutan adat kepada masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta, kerusakan hutan akibat eksploitasi PT TPL sudah terlanjur menghancurkan ekosistem.

















