Articles on patriarki
Displaying all articles
Rezim Prabowo mencerminkan politik yang maskulin dan paternalistik. Ini terwujud dalam penguatan militerisme, pemerintahan antikritik, dan kebijakan gender simbolis.
‘Sing beling sing nganten’ (tidak hamil tidak menikah) mencerminkan tekanan sosial dan budaya yang kuat bagi perempuan Bali untuk menghasilkan keturunan.
Pengurangan risiko kekerasan seksual di pesantren memerlukan integrasi antara kebijakan anti kekerasan seksual dalam kurikulum serta pengarusutamaan peran santri.
Dharma Wanita merupakan warisan Orde Baru yang melanggengkan patriarki melalui ideologi Ibuisme. Mampukah organisasi ini menjadi lebih progresif di era sekarang?
‘Unjuk kejantanan’ cenderung berkaitan dengan keyakinan bahwa maskulinitas sedang mengalami krisis atau sedang diserang.
Masih adanya bias gender dan patriarkisme yang diadopsi Kemlu menyebabkan kerugian satu pihak (pasangan perempuan) dan menguntungkan pihak lainnya (pasangan laki-laki).
Studi literatur menemukan bahwa perempuan Indonesia mulai menunda untuk menikah pada usia matang. Persepsi para kaum muda tentang pernikahan dan korelasinya dengan kualitas hidup telah bergeser.
Advokasi kebijakan perkawinan anak oleh gerakan perempuan menunjukkan banyak kemajuan, tetapi prevalensi perkawinan anak masih sangat mengkhawatirkan.
Toxic masculinity telah digunakan untuk menjelaskan segala hal, seperti terpilihnya Donald Trump menjadi presiden di Amerika Serikat. Tapi apa arti sebenarnya dari istilah toxic masculinity?
Kesempatan bagi perempuan untuk berkarir dan berkontribusi di masyarakat memang ada, tapi peluang perempuan untuk aktualisasi diri dan mengambil kesempatan itu masih terpasung.
Pandangan umum – yang salah dan menyesatkan – soal feminisme adalah saat esensi kesetaraan gender hanya dilihat ketika perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti laki-laki.
Cyber sexism dan seksisme adalah bentuk dominasi patriarki yang perilakunya mampu menyebar dan saling berubah bentuk.
Seruan Sukarno agar perempuan Indonesia menjadi revolusioner masih sangat relevan bagi perempuan masa kini, yang sejak rezim Orde Baru telah didomestikasi dengan ideologi ibuisme negara.
Representasi perempuan sebagai hantu atau monster secara historis digunakan untuk menjustifikasi dan memberikan batasan terhadap peran dan perilaku perempuan.
Budaya toxic masculinity yang dilahirkan oleh masyarakat patriarki diyakini menjadi sumber dari tabunya kenyataan bahwa laki-laki dapat menjadi korban kekerasan seksual.
Tindakan perempuan dalam aksi terorisme masih lebih berat terkait pada posisi mereka dengan segenap situasi yang melingkupi dirinya sebagai penganut agama dan perempuan yang taat.
Penelitian baru saya menyoroti kisah yang tidak banyak diketahui tentang peran perempuan dalam sejarah Muslim Inggris.
















