Articles on Masyarakat adat
Displaying 41 - 60 of 67 articles
Ada beberapa kemiripan menarik antara Klan Metkayina dengan gipsi laut di Indonesia, mulai dari cara hidup, hingga konflik yang mengancam kebudayaan mereka.
Di Indonesia, perempuan adat tak tinggal diam. Mereka memimpin usaha-usaha warga untuk membela ruang hidup masyarakat.
Keanekaragaman tumbuhan di hutan kerangas menjadi sumber tanaman obat tradisional dan kebudayaan masyarakat lokal di Pulau Belitung.
Di Indonesia secara khusus, isu terkait masyarakat adat masih belum terselesaikan, dan seringkali terabaikan.
Kekacauan tata kelola seperti itu tidak saja berakibat buruk bagi kelangsungan konservasi, tetapi juga merusak reputasi pariwisata kita sebagai destinasi yang berkualitas rendah.
Partisipasi warga penting karena pariwisata dapat mengubah struktur masyarakat. Apalagi, sektor ini tengah bergairah setelah relaksasi perjalanan pasca-pandemi, ditambah budaya viral di media sosial.
Pemerintah terkesan hanya mempedulikan batas-batas wilayah, tanpa mengakui Tanah Papua sebagai ruang hidup masyarakat di dalamnya.
Keberadaan pawang hujan sebagai bentuk eksistensi pengetahuan tradisional masyarakat semestinya menjadi identitas budaya Indonesia.
Pemerintah dapat memberikan kawasan komunal khusus yang tak dapat diperjualbelikan untuk melindungi ruang hidup gipsi laut.
Tak lagi sakral, ruang laut bagi sebagian kaum gipsi laut telah berubah menjadi wilayah yang dapat dieksploitasi
Regulasi memungkinkan Bank Tanah menguasai tanah adat. Sebab masyarakat adat memiliki kawasan tertentu yang tidak dihuni, tapi memiliki arti sebagai ruang hidup bersama.
Ketidakjelasan definisi, benturan regulasi, dan hegemoni pemerintah pusat menjadi hambatan pengesahan hutan adat di Papua.
Perjuangan mempertahankan tanah adat bukan semata-mata menyelematkan hutan dan lingkungan, melainkan juga menyelamatkan generasi yang akan datang—untuk tetap berdaulat, untuk tetap hidup.
Meski mencakup 70 juta orang, masyarakat adat di Indonesia masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah semasa pandemi.
Masyarakat adat di Kalimantan mengaitkan virus corona dengan kehidupan modern, bukan dengan perburuan tradisional mereka.
Setelah 75 tahun, Masyarakat Adat di Indonesia masih memperjuangkan kesetaraan eksistensi mereka di Republik Indonesia.
Kelompok masyarakat adat telah menggunakan pengetahuan tradisional mereka sejak dulu untuk hadapi dampak dari perubahan iklim.
Penelitian membuktikan skema perhutanan sosial, yaitu Hutan Desa, bisa menurunkan tingkat kemiskinan, namun juga untuk menekan laju deforestasi.
Siapa yang menang, siapa yang kalah, dan alam siapa yang kita bicarakan saat berbicara soal solusi berbasis alam?
Perlindungan terhadap masyarakat adat belum terpenuhi, sementara eksistensi mereka terancam dengan upaya penjarahan sumberdaya alam dan pengalihan fungsi hutan.


















