Articles on sumber daya alam
Displaying all articles
Ekonomi ekstraktif di Indonesia secara konsisten meminggirkan masyarakat lokal—dari penggusuran, hilangnya akses hidup, hingga dampak kesehatan dan lingkungan. Kekayaan SDA dinikmati perusahaan dan elite, sementara warga sekitar tetap hidup dalam kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan yang terus berulang.
Pembahasan mengenai green job masih menjadi sub pembahasan dalam dokumen kebijakan yang masih cenderung makro tanpa turunan kebijakan teknis yang komprehensif.
Keberlanjutan praktik adat sasi bergantung pada relevansinya bagi masyarakat, bukan sekadar romantisasi tradisi.
Selain tersingkirkan karena aktivitas eksploitasi, nomad laut tidak bisa berlindung ke aparat karena persoalan kependudukan dan catatan sipil.
Warga lokal membutuhkan peningkatan kemampuan pengolahan hasil hutan dan pemasaran menjadi cuan untuk menopang penghidupan mereka.
Setelah 16 tahun, negara-negara akhirnya mengesahkan Traktat Laut Lepas. Ini empat aspek kuncinya.
Total biaya lingkungan di Indonesia pada 2010 mencapai Rp 915,11 triliun – setara dengan 13% dari PDB Indonesia pada tahun yang sama.
Proyek pembangunan skala besar bisa berarti masyarakat lokal kehilangan identitas mereka dan koneksi ke masa lalu.
Populasi dunia telah mencapai 8 miliar jiwa dan diperkirakan naik hingga 10 miliar pada tahun 2050. Apakah kita perlu berusaha mengurangi atau menghentikan pertumbuhan populasi?








