Articles on kearifan lokal
Displaying all articles
Karhutla bukan sekadar krisis musiman, melainkan penaklukan ruang hidup. Ia mengkriminalisasi kearifan lokal berladang dan mengubah fungsi rumah warga menjadi tempat pengisolasian yang menyesakkan.
Kerusakan rumah akibat gempa di Sikka tergolong paling rendah dibanding kabupaten lain di NTT maupun Gempa Flores 1992. Kami menduga pengetahuan lokal berkontribusi pada tren ini.
Arsitektur ‘Umah Pitu Ruang’ yang lahir dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan adat, terbukti lebih ramah lingkungan dan tahan bencana, termasuk saat banjir Senyar pada November 2025.
Beberapa elemen Pranata Mangsa tidak dapat diukur secara ilmiah, khususnya yang terkait ritual dan kepercayaan masyarakat
Sejarah menunjukkan bahwa pecalang memiliki posisi yang begitu lentur, sehingga sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak dengan beragam kepentingan.
Keberlanjutan praktik adat sasi bergantung pada relevansinya bagi masyarakat, bukan sekadar romantisasi tradisi.
Di tengah krisis iklim yang semakin parah, semua kearifan lokal sangat penting – termasuk ajaran Islam yang memberikan panduan untuk hidup harmonis dengan alam.
Sampai saat ini belum ada program yang mampu menghidupkan kembali fungsi handil. Negara semestinya mengakui peran pengetahuan lokal dalam mengelola lanskap gambut.
Neneng Rosdiyana menyingkap kegagalan komunikasi kita menjangkau akar rumput, sehingga potensi “Nenengisme” untuk mengubah cara komunikasi lingkungan layak digali.
Dari Sangurejo kita belajar bahwa agama bisa menjadi alat strategis untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan dan ampuh menggerakkan aksi iklim.
Perkembangan teknologi dan globalisasi tak hanya membuat saluran narasi ‘smong’ semakin beragam, tetapi juga berisiko memudarkan kearifan lokal ini jika kita tidak berupaya merawatnya.
Pengetahuan ekologi tradisional seringkali diwariskan secara lisan, salah satunya melalui wayang. Bagaimana wayang kulit Kedu dapat digunakan untuk meredam dan menanggulangi dampak perubahan iklim?
Some time between 1100 and 1700 AD, a Massospondylus bone was discovered and carried to a rock shelter in Lesotho.












