Articles on Maskulinitas
Displaying all articles
Riset: Laki-laki bukan tak punya cerita. Norma maskulinitas membuat mereka menyembunyikan kerentanan, lalu mencari cara lain untuk berbagi kesedihan.
Inilah ‘toxic masculinity’, ketika pemerintah merasa jadi ‘bapak’ yang berusaha keras mengendalikan semuanya, padahal kapasitas materialnya dalam melindungi warga dipertanyakan.
Rezim Prabowo mencerminkan politik yang maskulin dan paternalistik. Ini terwujud dalam penguatan militerisme, pemerintahan antikritik, dan kebijakan gender simbolis.
Ayah juga bisa mengalami trauma setelah menyaksikan ibu melahirkan. Namun, masyarakat cenderung mengabaikan dampak psikologis yang dialami laki-laki.
‘Performative male’ hanyalah cara lain mengekspresikan maskulinitas.
Jürgen Klopp mungkin telah meninggalkan Liverpool FC tetapi warisan kejujurannya tentang kesehatan mental dan ‘wellbeing’ akan bertahan lama.
‘Unjuk kejantanan’ cenderung berkaitan dengan keyakinan bahwa maskulinitas sedang mengalami krisis atau sedang diserang.
Laki-laki merasa lebih menderita jika pasangannya (perempuan) menjadi satu-satunya yang mencari nafkah.
Meskipun terkadang kontroversial, Judith Butler sangat berpengaruh dan karyanya berlandaskan pada komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan.
Toxic masculinity telah digunakan untuk menjelaskan segala hal, seperti terpilihnya Donald Trump menjadi presiden di Amerika Serikat. Tapi apa arti sebenarnya dari istilah toxic masculinity?
Tampaknya ada kekosongan yang kemudian diisi oleh para influencer misogini.
Secara historis, kebotakan diperlakukan secara netral sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sekarang, botak dianggap hal yang mengkhawatirkan.
Pandangan umum – yang salah dan menyesatkan – soal feminisme adalah saat esensi kesetaraan gender hanya dilihat ketika perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti laki-laki.
Seperempat laki-laki pernah memperkosa atau memaksa perempuan untuk berhubungan seksual.
Memasuki milenium ketiga, dunia perfilman Indonesia mulai memperkenalkan gagasan maskulinitas laki-laki baru. Dari Rangga hingga Khudori, mereka laki-laki yang menantang konsep Bapakisme Orde Baru.














