Articles on krisis iklim
Displaying 21 - 40 of 133 articles
Menyelesaikan persoalan banjir rob di Pantura butuh solusi berbasis alam, bukan tanggul laut raksasa.
Tingginya aktivitas digital Indonesia ditopang energi fosil, menciptakan jejak emisi karbon signifikan yang menjadi tantangan bagi pencapaian target iklim nasional.
Pernyataan Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil yang menyebut para penolak tambang sebagai wahabi lingkungan, menuai kontroversi.
Desain rumah ramah lingkungan bisa mengurangi konsumsi energi rumah tangga secara drastis.
Di era Prabowo Subianto, peta jalan transisi energi dalam Permen ESDM 10/2025 menjadikan pensiun dini PLTU sebagai opsi, bukan kewajiban.
Zilenial memilih karier sesuai nilai dan nurani, seperti green jobs, yang memberi penghasilan sekaligus dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Survei tahun 2025 pada 4.501 siswa SMA di empat kota di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 3 kategori siswa dalam pendidikan perubahan iklim: si Ragu, si Pelajar, dan si Advokat.
Petani bergulat dengan tantangan perubahan iklim, mencoba berbagai cara untuk tetap bertahan.
Musim makin tak menentu, nasib serangga penyerbuk terancam.
Laudato Si’ bukan sekadar dokumen gereja, melainkan seruan hidup yang mendesak untuk seluruh umat manusia.
Krisis iklim bisa memicu kecemasan berlebihan (‘eco-anxiety’) yang berdampak buruk bagi kesehatan.
Bersepeda adalah cara ampuh, mudah, dan murah untuk mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.
Tumbuhan punya cara sendiri untuk “berpuasa”. Tumbuhan “berpuasa” sebagai strategi bertahan hidup saat kondisi lingkungan tidak mendukung
Jejak lingkungan yang dihasilkan di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam tak terlepas dari andil perdagangan antardaerah.
Banjir terus datang, tapi kita masih gagap. Dengan pendekatan ilmiah, prediksi bisa ditingkatkan. Namun, apakah kebijakan sudah berbasis data atau masih reaktif?
Jumlah masjid di Indonesia hampir 300 ribu, berpotensi besar dimanfaatkan sebagai pusat perubahan dalam gerakan lingkungan.
Tata kelola iklim global kini telah bergeser dari pendekatan top-down ke bottom-up karena bangkitnya kesadaran akan demokratisasi iklim. Sayangnya, Indonesia justru berjalan ke arah sebaliknya.
Pemerintahan gencar mengobral bisnis carbon capture and storage (CCS) kepada negara lain. Sudah banyak preseden gagal di negara lain.
Bumi telah melewati batas 1,5°C yang digariskan dalam Perjanjian Paris, di mana para ilmuwan memperkirakan akan terjadi kerusakan besar pada sistem pendukung kehidupan planet kita.
Warisan Wallace jauh melampaui evolusi. Dia adalah salah satu ‘environmentalist’ global paling awal di dunia.



















