Articles on AI
Displaying 61 - 79 of 79 articles
Jika pelajar dan mahasiswa marak menggunakan ChatGPT untuk menulis esai dan menjawab soal, apa yang bisa dilakukan dosen dan pengajar untuk mengantisipasinya?
Beragam spekulasi beredar tentang apa dampak ChatGPT terhadap perkuliahan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Survei baru kami melihat semester pertama mahasiswa memakai teknologi ini.
Penghentian eksperimen terkait aplikasi teknologi ChatGPT justru akan menghambat temuan-temuan yang bertujuan memperbaiki model ini.
Penggunaan AI generatif, alat penghasil bahasa dan gambar yang luar biasa kuat yang menggemparkan dunia memiliki jejak karbon yang besar. Namun, tidak semua AI sama ‘kotornya’.
Tak hanya dalam konteks belajar dan riset, pemanfaatan AI dengan tepat bisa membantu perguruan tinggi meningkatkan pengelolaan sumber daya serta kualitas layanan kampus.
ChatGPT kemungkinan besar digunakan oleh anak muda, jadi saya memikirkan masalah kesehatan yang mungkin sangat penting bagi generasi muda, seperti kesehatan seksual.
Penggunaan ujian lisan punya sejarah panjang bahkan sejak 2.000 tahun lalu – dan bisa kembali menjadi solusi bagi perguruan tinggi untuk menguji pengetahuan mahasiswa.
Kecanggihan sistem AI dikhawatirkan dapat digunakan untuk tujuan jahat demi kepentingan tertentu.
Kemuktahiran ChatGPT menjadi bahan perdebatan sengit di dunia akademik.
Banyak ahli meyakini AI akan menjadi salah satu kemajuan teknologi terbesar dalam sejarah manusia,
Kita seharusnya berharap tugas esai bisa merefleksikan pemahaman, penilaian, dan rasa kepedulian – hal-hal yang melampaui ChatGPT.
Kita perlu mengembangkan standar kualitas minimum untuk intervensi AI dalam perawatan kesehatan.
Beberapa orang beranggapan ChatGPT mengancam dunia pendidikan dan riset, tapi bot ini bisa jadi bermanfaat bagi akademisi dan peneliti.
Dari ChatGPT hingga Lensa, rasanya AI lahir untuk mengambil alih tugas manusia. Namun, terlepas dari beberapa terobosan yang mengesankan, sistem AI masih memiliki banyak keterbatasan.
Kesiapan perguruan tinggi farmasi ditentukan oleh kemampuan akademisi yang ahli di bidang kesehatan digital.
Meningkatnya penggunaan AI dan machine learning dalam keputusan kebijakan publik menimbulkan kekhawatiran soal keadilan dan hak asasi.
Banyak negara mengira bahwa algoritma adalah jalan baru menuju sejahtera.
Perancang teknologi dan masyarakat perlu melihat dengan saksama bagaimana informasi dari sistem kecerdasan buatan digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Bahaya sebenarnya dari kecerdasan buatan bukanlah “singularitas AI” yang terkenal itu, tapi kehilangan pekerjaan dan penyalahgunaan oleh orang-orang jahat.















