Articles on Kecerdasan buatan (AI)
Displaying all articles
Ide yang viral bahwa perintah sopan kepada ChatGPT bisa membantu menghemat energi adalah sebuah hiperbola. Namun, hal ini mencerminkan kesadaran publik yang semakin meningkat tentang biaya infrastruktur yang sangat besar dari kecerdasan buatan (AI).
CC BY87.7 MB (download)
Kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan hangat dibicarakan, terlebih setelah Wapres Gibran mewacanakan untuk mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum .
Tarif ojol sering berubah-ubah tanpa penjelasan. Jika kamu bertanya mengapa demikian? Jawabannya ada di balik teknologi black box AI yang dipakai perusahaan transportasi online.
Banjir terus datang, tapi kita masih gagap. Dengan pendekatan ilmiah, prediksi bisa ditingkatkan. Namun, apakah kebijakan sudah berbasis data atau masih reaktif?
Pada 2023, sempat viral di media sosial sebuah unggahan berisi tangkapan layar GPTZero yang memprediksi bahwa Konstitusi Amerika Serikat (AS) “kemungkinan besar ditulis seluruhnya oleh AI”. GPT Zero adalah…
Peluncuran DeepSeek disebut sebagai serangan “Pearl Harbour” di dunia AI
Pelabel data adalah urat nadi industri AI. Namun, mereka sering kali dibayar dengan upah sangat rendah, bekerja di lingkungan yang tidak aman, dan tidak memiliki perlindungan dasar di tempat kerja.
Berikut ini adalah beberapa tren perubahan teknologi yang dapat kita lihat pada tahun 2025.
Diskusi AI dari perspektif lingkungan didominasi oleh kekhawatiran akan dampak ekologisnya yang merugikan. Padahal, AI bisa menjadi solusi inovatif dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Indonesia tengah mengembangkan AI berbasis teks seperti ChatGPT melalui pengembangan large language model (LLM). Potensi ekonomi dan pelestarian budaya datang bersamaan risiko di baliknya.
Seiring dengan meningkatnya ‘digiseksualitas’, pemerintah harus memperhatikan perusahaan-perusahaan yang mengambil untung dari pornografi AI yang tidak etis.
John Hopfield dan Geoffrey Hinton, peraih Nobel Fisika 2024, mengembangkan sistem komputer yang dapat mengingat dan belajar dari pola-pola dalam data.
Kecerdasan buatan (AI) memang menjanjikan kemajuan besar, namun tanpa aturan main yang jelas, teknologi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Peran regulasi penting sebagai penyeimbang.
Perbedaan regulasi AI berpotensi menciptakan fragmentasi pasar teknologi global. Harmonisasi mendesak dibutuhkan untuk menyeimbangkan antara kemajuan inovasi dan pelindungan hak asasi manusia.
Buku Nexus karya Yuval Noah Harari sangat ambisius, berani, sekaligus membuah gelisah. Buku ini menantang pembaca untuk berpikir kritis tentang masa depan.
Walau 67% responden memiliki pandangan positif terhadap Gen AI dan masa depannya, ada 47% responden yang khawatir terhadap potensi isu negatif yang dapat terjadi dari penggunaan Gen AI.
Ada dua perspektif yang berbeda terkait arah kebijakan AI. Perspektif pertama menyatakan bahwa teknologi itu netral, sedangkan yang kedua berpendapat bahwa teknologi itu sarat nilai.
Pemblokiran ChatGPT di Italia menimbulkan beberapa pertanyaan penting, termasuk bagaimana menyeimbangkan akses ke layanan dengan mempertimbangkan perlindungan anak-anak
ChatGPT dilatih dengan 300 miliar kata data pengguna, namun pengguna tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah data mereka digunakan atau tidak.


















