Articles on Aceh
Displaying 1 - 20 of 27 articles
Konflik GAM yang berlangsung selama puluhan tahun di Aceh berakhir pascatsunami dahsyat 2004. Namun, wacana kemerdekaan kini kembali mencuat.
Aceh memiliki warisan hukum adat dan turats yang mengajarkan pelestarian alam–perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi krisis lingkungan dan bencana.
Seni Didong perlu dikembalikan fungsinya sebagai alarm moral yang merekatkan kembali hubungan manusia dengan alam.
Riset menemukan bahwa air di Aceh pascabencana kualitasnya rendah meski terlihat jernih. Ini jadi beban ganda bagi perempuan.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Masjid bisa dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan darurat ketika faskes lumpuh.
Ketika badai Senyar melanda Aceh, warkop menjadi satu-satunya titik yang berpenerang, sekaligus menjadi ruang di mana koneksi sosial yang terputus perlahan tersambung kembali.
Banjir Sumatra nyaris nihil kepemimpinan negara. Ribuan relawan turun, tapi negara justru seperti tak hadir sebagai otoritas. Apa dampaknya jika tanggap darurat dibiarkan tanpa arah?
Dalam situasi krisis, publik memilih jalur yang memberikan rasa kepastian paling cepat. ‘Influencer’ menawarkan hal tersebut.
Pembatalan konser Dewa 19 di Aceh bukan sekadar keputusan moral tapi juga indikator bahwa regulasi budaya Aceh belum siap menghadapi perubahan zaman.
Warga terdampak bencana Sumatra dapat menggugat pemerintah ke pengadilan. Gugatan bisa diajukan melalui pengadilan tata usaha negara maupun pengadilan negeri .
Sistem hukum di Aceh tumbuh dari keberagaman sumber nilai. Aceh dapat menjadi contoh untuk menemukan titik seimbang antara hukum nasional, syariat, dan adat lokal.
Perdamaian antara pemerintah dan GAM adalah pencapaian besar, namun kejahatan perang dan pelanggaran HAM oleh militer Indonesia masih belum dipertanggungjawabkan.
Tanpa integrasi sejarah konflik ke dalam pendidikan, generasi muda Aceh akan tumbuh tanpa kesadaran kritis tentang masa lalu. Ini berbahaya bagi keberlanjutan rekonsiliasi.
Perubahan iklim menyebabkan banyak persoalan keberlanjutan dalam budi daya kopi di Aceh Tengah. Petani kopi perlu mendapatkan dukungan dan pendampingan memadai dari pemerintah.
Dua dekade paska konflik dan bencana, semestinya sudah cukup untuk mengingatkan kita tentang pentingnya perempuan memiliki akses dan partisipasi bermakna.
Penetapan Qanun Bahasa Aceh menimbulkan pertanyaan penting. Seberapa besar peran bahasa dalam membangun perdamaian di wilayah pasca-konflik?
Setelah mengalami darurat militer berlarut-larut, Aceh kini bangkit melalui peran aktif masyarakatnya.
Our recent study shows that the creation of local smoke-free areas has faced numerous challenges due to the complexities involved in translating national laws into local laws.



















