Articles on Tsunami Aceh
Displaying all articles
Upaya-upaya mewariskan pengetahuan bencana belum berjalan mulus karena masih bergantung pada pihak eksternal dan cenderung tidak berkelanjutan.
CC BY83.2 MB (download)
Pagi di 26 Desember 2004, dunia dikejutkan oleh salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah modern: tsunami Aceh. Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,1-9,3 skala Richter ini mengguncang dasar Samudra Hindia…
Usaha untuk mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan Pengurangan Risiko Bencana memerlukan sistem peringatan dini multi-bahaya sekolah, peran kelembagaan, dan pemberdayaan guru.
Salah satu usaha untuk merawat memori atas bencana adalah dengan membangun monumen. Namun, banyak monumen bencana di Aceh yang justru tidak memicu ingatan penyintas akan tsunami. Mengapa demikian?
Dari peristiwan Tsunami Aceh yang terjadi 20 tahun lalu, kita belajar urgensi membangun sekolah yang tangguh, terutama di wilayah rawan bencana.
Dua dekade paska konflik dan bencana, semestinya sudah cukup untuk mengingatkan kita tentang pentingnya perempuan memiliki akses dan partisipasi bermakna.
Dari konflik bersenjata hingga tsunami dahsyat tahun 2004, keberadaan Tionghoa Aceh hampir terlupakan meskipun telah menetap di provinsi ini selama berabad-abad.
Penetapan Qanun Bahasa Aceh menimbulkan pertanyaan penting. Seberapa besar peran bahasa dalam membangun perdamaian di wilayah pasca-konflik?
Stres akibat bencana alam meningkatkan kebiasaan merokok para penyintas. Pemerintah perlu menyiapkan sejumlah kebijakan, termasuk pengadaan layanan psikososial dalam strategi manajemen bencana.
Kejadian Gempa dan Tsunami Aceh 2004 tercatat sebagai salah satu bencana alam terparah dalam sejarah. Tragedi ini memberikan pembelajaran penting untuk meningkatkan mitigasi risiko bencana.
Setelah mengalami darurat militer berlarut-larut, Aceh kini bangkit melalui peran aktif masyarakatnya.
Smong adalah satu kata yang diketahui telah menyelamatkan banyak nyawa di Pulau Simeulue Aceh. Kearifan kata ini telah dipertahankan selama 97 tahun.
Faktor kebijakan pemerintah akan sangat menentukan relasi antara manusia dengan alam, utamanya dalam konteks bencana.
Pengetahuan lokal redup sebelum 1907 dan menguat kembali setelah era itu hingga berhasil menyelamatkan masyarakat dari badai tsunami terdahsyat pada 2004.
Program kesadaran dan pendidikan yang berkelanjutan adalah bagian terpenting dari sistem peringatan tsunami di daerah pesisir seperti Palu yang berisiko tsunami.
Pascatsunami, kedudukan perempuan di masyarakat Aceh banyak mengalami perubahan, dan bisa dikatakan, melemah dibandingkan dengan kedudukan mereka yang tinggi secara historis.















