Articles on Pengungsi
Displaying 1 - 20 of 23 articles
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Evakuasi warga Gaza bukan solusi permanen untuk membantu Palestina, justru bisa melemahkan posisi mereka dalam perjuangan atas hak kemerdekaan.
Setahun sejak serangan Hamas dan pemboman Israel di Gaza, konflik ini telah menciptakan generasi pengungsi baru di seluruh wilayah Timur Tengah.
Pakar jelaskan fakta mengenai isu pengungsi Rohingya dan mengapa masalah ini begitu menuai pro kontra.
Peneliti tawarkan tiga solusi untuk pemerintah dalam menangani isu pengungsi Rohingya di Indonesia.
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia mengalami kemajuan dalam menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi, pandemi telah membuat beberapa hambatan dalam pelaksanaannya.
Kenaikan muka air air laut dan bencana alam akibat perubahan iklim dapat memicu gelombang migrasi sehingga bisa memicu polemik internasional di masa depan.
Hak dan kemudahan untuk mencari suaka di Eropa yang didapat pengungsi Ukraina tidak dirasakan oleh pengungsi lain yang datang dari luar Eropa.
Indonesia, dan banyak negara lain, akan mengalami peningkatan jumlah pengungsi dan pencari suaka Afghanistan; ini akan menjadi ujian kemanusiaan dan Indonesia perlu bertindak cepat.
Atas kemauan mereka sendiri, beberapa orang menggunakan fasilitas bandara untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Persekusi yang terus berlanjut di Myanmar, dan kondisi hidup yang sangat sulit di Bangladesh mendorong pengungsi Rohingya terus mencari tempat perlindungan.
Solidaritas sesama Muslim, hukum adat, dan pengalaman konflik dan bantuan asing dapat menjelaskan mengapa orang Aceh sangat terbuka pada orang yang kesulitan.
Di luar pertimbangan kemanusian, ada risiko lain yang dihadapi bila keluarga bekas anggota ISIS – khususnya anak-anak – tidak dipulangkan.
Hak untuk bekerja bagi pengungsi di Malaysia akan berguna untuk memberdayakan mereka, memberi kesempatan untuk mengakumulasi sumber daya sosial dan modal, serta memberi manfaat bagi mereka dan negara.
Dengan sikap pemerintah Australia yang menerapkan kebijakan keras terhadap pengungsi, mungkin saatnya pemerintah Indonesia bertindak untuk melindungi para pengungsi yang tinggal di wilayah Indonesia.
Imigrasi dinilai sebagai krisis global. Padahal distribusi imgran di dunia merata. Negara mana dengan jumlah imgran terbanyak? Dari manakah mereka berasal? Data menyajikan jawaban yang mengejutkan.
Dalam perspektif gender, perempuan banyak menjadi korban dalam situasi bencana karena memiliki akses yang lebih rendah terhadap sumber daya seperti sarana toilet dan air bersih selama di pengungsian.
Semakin banyak negara dunia membatasi penerimaan pengungsi. Sementara di Indonesia, pencari suaka dan pengungsi yang menunggu di Indonesia banyak yang tak memiliki tempat bernaung dan depresi.
Banyak orang Rohingya di kawasan tak berkewarganegaraan dan hidup terombang-ambing. Itu sebabnya kelancaran kesepakatan repatriasi Rohingya dan apa saja isinya, penting bagi jutaan manusia.
Persekusi Rohingya dimulai pada 1948, tahun Myanmar merdeka dari penjajahan Inggris.



















