Articles on Perubahan iklim
Displaying 21 - 40 of 340 articles
Transisi energi harus segera dilaksanakan sebelum semuanya terlambat. Pendekatan berbasis komunitas bisa menjadi solusinya.
Persoalan suhu panas di permukiman tidak bisa diselesaikan dengan mengganti atap (gentengisasi). Solusi alternatif lebih murah dan efektif adalah teknologi atap dingin seperti cat reflektif, ditambah penanaman pohon dan menambah ruang hijau.
Ide yang viral bahwa perintah sopan kepada ChatGPT bisa membantu menghemat energi adalah sebuah hiperbola. Namun, hal ini mencerminkan kesadaran publik yang semakin meningkat tentang biaya infrastruktur yang sangat besar dari kecerdasan buatan (AI).
Perlu adanya konsistensi kebijakan dan jaminan kepastian hukum terhadap EBT termasuk fasilitas insentif dan penugasan BUMN sebagai penggerak transisi energi nasional
Indonesia menghadapi kesenjangan besar dalam pendanaan untuk menghadapi krisis iklim. Sementara itu, bantuan dana iklim global yang sudah tersedia pun belum benar-benar mengalir sampai ke tapak.
Seperti hidup melebihi kemampuan finansialmu, menggunakan air lebih banyak daripada yang dapat diperbarui oleh alam dapat menimbulkan akibat yang fatal.
Mencairnya es, permafrost, dan runtuhnya dinding fjord hanyalah beberapa dampak perubahan iklim yang dirasakan warga Greenland.
Pembahasan mengenai green job masih menjadi sub pembahasan dalam dokumen kebijakan yang masih cenderung makro tanpa turunan kebijakan teknis yang komprehensif.
Badai tropis Ditwah dan Senyar menunjukkan bahwa kita harus bersiap menghadapi badai yang memiliki angin lemah tetapi membawa curah hujan yang ekstrem.
Indonesia sudah memiliki panduan pendidikan perubahan iklim, tapi praktiknya masih lemah dan belum menyasar anak usia dini. Pembelajaran berbasis tempat dapat menjadi salah satu solusinya.
Saat respons pemerintah terhadap bencana lambat, warga harus lebih siaga. Ada banyak aplikasi dan data satelit yang bisa diakses secara gratis untuk memantau kondisi sekitar.
Badai tropis di daerah khatulistiwa jarang terjadi. Itulah salah satu alasan mengapa Badai Senyar menyebabkan kerusakan yang begitu parah di Indonesia dan Malaysia.
Kesepakatan memang tercapai, tetapi beberapa elemen penting justru hilang dalam COP 30.
COP 30 seakan mencerminkan bahwa dunia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berdiplomasi. Padahal, peluang untuk mencegah krisis tak terpulihkan akibat perubahan iklim semakin sempit.
Wariga memandu Bayan berabad-abad, tapi Indonesia abaikan sistem adaptasi iklim ini. Negara lain sudah integrasikan pengetahuan indigenous serupa
Dokumen Second NDC ini dinilai masih mempertahankan pola lama tanpa terobosan aksi mitigasi yang signifikan untuk mengurangi emisi karbon.
Sebagian besar program pemulihan fokus pada upaya meningkatkan pertumbuhan terumbu karang, tetapi jarang mempertanyakan apakah seluruh ekosistem berfungsi baik.
Di COP30, mekanisme implementasi dana loss and damage diharapkan lebih jelas dan adil bagi negara miskin yang paling terdampak krisis iklim.
Indonesia masih andalkan perdagangan karbon menjelang COP30. Perlu belajar dari kegagalan sistemik pasar karbon global, sebaiknya fokus ke energi terbarukan.
Terumbu karang yang rusak akibat bom ikan tidak mungkin pulih secara alami tanpa campur tangan manusia.



















