Articles on Pemilihan Umum
Displaying 1 - 20 of 32 articles
Film Dirty Vote sempat diprediksi akan menjatuhkan perolehan suara paslon 02. Tapi ternyata realitasnya tidak demikian. Mengapa?
Bagaimana membaca visi-misi capres-cawapres agar dapat memilih secara rasional?
Apa yang bisa kita pelajari dari maraknya hoaks pada Pemilu Presiden 2019?
Hoaks telah terbukti berdampak negatif di masyarakat. Apa saja dampak dari maraknya persebaran hoaks ketika pemilu?
Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) pada 14 Februari 2024. Ini diyakini akan menjadi pesta demokrasi terbesar di dunia yang akan diselenggarakan selama satu hari.
Banyak partai politik yang memilih cara ‘instan’ untuk meraup suara pemilih, tapi sayangnya tidak memberikan nilai tambah terhadap demokrasi secara keseluruhan.
Organisasi nonpemerintah (NGO) perempuan perlu lebih gencar mempersiapkan kandidat potensial bakal caleg perempuan untuk maju dalam Pemilu 2024.
Media sosial menjadi sarana efektif dan efisien bagi para politikus dan partainya mengingat singkatnya masa kampanye.
Pemimpin baru partai Konservatif mewarisi negara yang sedang dalam krisis.
Istilah “big data” tidak hanya tereduksi, namun juga secara tidak langsung telah disalahgunakan demi memuluskan kepentingan politik yang bertentangan dengan undang-undang.
Wacana penundaan pemilu 2024 merupakan bukti nyata adanya usaha pelanggaran dan pelecehan terhadap konstitusi sebagai hukum tertinggi di Indonesia.
Caleg perempuan belum menjadi prioritas partai; biaya mahal yang harus dikeluarkan caleg juga menjadi halangan.
Dampak ekonominya tidak banyak, Pilkada serentak malah akan menghasilkan peningkatan kasus COVID-19.
Sebuah perubahan penting sistem pemilihan pada 2009 menggeser fokus pemilu dari partai politik kepada masing-masing kandidat.
Aktor-aktor politik membuka diri pada kelompok konservatif untuk mendulang suara dalam pemilihan umum. Kelompok konservatifpun semakin aktif mendorong kepentingan mereka.
Undang-undang telah mengatur soal calon tunggal dalam Pilkada, termasuk jika kotak kosong menang.
Kecurangan terjadi karena kuatnya hubungan antara penyelengggara pemilu dan caleg, sistem pemilihan yang mendorong kompetisi keras, dan lemahnya sistem pendukung pemilihan.
‘Mereka bisa jadi tukang bohong, tapi paling tidak mereka jujur.’
Media sosial sering dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi, terutama tentang pemilihan presiden. Namun, hasilnya sering tidak mewakili kenyataan.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), meski memimpin perolehan suara, tidak mengalami lonjakan jumlah suara yang signifikan.



















