Articles on Media Sosial
Displaying 181 - 200 of 203 articles
Vigilantisme di sosial media saat tahun politik membuat warganet saling mengawasi dan berperilaku layaknya petugas keamanan digital.
Meskipun beberapa pengguna media sosial dapat memonetisasi “like” di media sosial mereka, kita justru melakukannya tanpa tujuan & malah mengubah kita menjadi pion untuk penggunaan politik & komersil
Sekitar 82% turis menggunakan platform digital untuk mencari informasi tujuan wisata dan 73% berkomunikasi menggunakan media sosial ketika berwisata.
Kami menggunakan teknik terbaru dari kecerdasan buatan untuk mempelajari bagaimana dukungan atau penolakan berita bohong dapat tersebar di media sosial.
Di Indonesia perusahaan rokok masih bisa pasang iklan di televisi, radio dan papan reklame. Sekarang mereka menambah satu saluran lagi: media sosial.
Informasi yang Anda sebar di Facebook memaparkan harapan dan ketakutan Anda. Kuis Facebook yang tampak tidak berdosa bukan sesuatu yang polos.
Algoritme membutuhkan analisis dari ilmuwan sosial
Bagaimana pun juga algoritme itu mesin. Dia butuh data, yang memasukkan data itu adalah manusia, makhluk sosial.
Para ahli menjelaskan keuntungan psikologis yang didapat dari Facebook yang membuat orang susah untuk berhenti menggunakannya
Banyak orang tua memposting cerita dan foto tentang anak mereka karena bangga. Tapi ini bisa memicu konflik keluarga juga.
Pengguna Facebook seharusnya tidak perlu mempercayai media sosial tersebut tapi bukan berarti mereka bisa mengabaikan fitur yang dianggap penting untuk berhubungan dengan orang lain.
Sebelum posting di media sosial pikirkan dulu konsekuensi terburuk dari pesan yang akan Anda kirimkan.
Demokrasi akan menguat jika kita belajar bagaimana menggunakan internet dengan bijak. Jika kita menyerahkannya kepada angin pasar bebas mungkin akan kita dapati internet menguasai kita.
Individu memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih cemas, mudah marah, merasa lebih memadai dan memiliki perasaan rendah diri yang bersifat sementara setelah melihat media sosial.
Facebook ingin Anda lebih banyak share momen pribadi daripada berita. Selintas sepertinya ok. Tapi dengan cara ini, sebenarnya Mark Zuckerberg ingin Anda lebih banyak lihat iklan ketimbang berita.
Lebih dari 300 jam tayangan diunggah ke YouTube tiap menitnya. Banyak yang kurang ajar membuat parodi tidak pantas dari karakter yang disukai anak-anak. Mengetahui dan hati-hati menjadi langkah awal.
Sudah banyak orang tua tahu hal-hal negatif berkenaan dengan jejak digital kita dan anak-anak. Tetapi banyak yang belum tahu bahwa jejak digital bisa membangun masa depan anak.
Dari algoritme pencarian Google hingga algoritme umpan berita Facebook tidak saja kompleks dan tertutup, tapi memang sengaja dibuat kabur.
Iklim politik yang gerah, ditambah mudahnya orang berbagi konten kontroversial di media sosial, membuat kita penasaran kapan sebaiknya “berhenti berteman”. Apa saran Aristoteles?
Memperbaiki mutu institusi dan organisasi yang ada dalam masyarakat adalah kunci membangun masyarakat yang mampu berpikir rasional.
Begitu melek, dalam genggaman Generasi Z sudah ada internet. Mereka tidak terkagum-kagum akan kemudahan dan kepraktisan internet.



















