Articles on influencer
Displaying 1 - 20 of 27 articles
Kritik digital menunjukkan kepedulian politik, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan. Perlu nasionalisme solidaristik untuk mengubah kritik jadi kekuatan kolektif.
Teknologi gen AI kini mampu mereplikasi wajah, suara, ekspresi, bahkan karakter kreatif seseorang dengan tingkat kemiripan yang sulit dibedakan dari realitas. Apa risikonya?
Matinya kepakaran: Saat influencer lebih dipercaya daripada ahli
CC BY60.8 MB (download)
Tahun 2026 belum genap berjalan dua bulan, lini masa media sosial sudah disesaki berbagai keriuhan. Mulai dari perdebatan sengit tentang investasi kripto yang anjlok, hingga silang pendapat mengenai program…
Di Indonesia, krisis kepakaran kian parah karena disinformasi dan komodifikasi gelar akademis yang merusak kredibilitas pengetahuan dan mengancam kepentingan publik.
Konten yang dibentuk dalam ruang gema media sosial dapat memunculkan polarisasi. Karena itu, ‘influencers’ sebaiknya membuat konten berdasarkan data, fakta dan etika.
Artis dan ‘influencer’ berlomba-lomba mengaku menerima penghargaan dari lembaga internasional seperti UNESCO untuk mendorong trafik dan menciptakan citra pintar.
Selalu berpegangan teguh pada nilai-nilai pribadi. Jadikan agama sebagai nilai pembanding, bukan sekadar label yang ditempel di media sosial
Sebenarnya apa hubungan ‘influencer’ dan pemerintah? Apakah benar ‘influencer’ menawarkan benefit yang besar bagi kesuksesan program pemerintah?
Masifnya aktivitas digital di Indonesia membutuhkan edukasi literasi, terutama bagi pelaku aktif seperti ‘content creator’. Bagaimana caranya?
Kehadiran influencers melalui media sosial membentuk opini publik tentang jilbab–yang awalnya dilihat sebagai batasan, kini menjadi bagian dari identitas.
Diskursus tentang “matinya kepakaran” ramai di media sosial. Orang-orang lebih mempercayai influencer alih-alih mencari para pakar. Apakah benar kepercayaan terhadap para pakar telah ‘mati’?
Hubungan parasosial dengan influencers dan fenomena psikologis seperti FOMO, YOLO, dan FOPO menjadi faktor pemicu perilaku pembelian impulsif, terutama di kalangan anak muda seperti Gen Z.
Generasi muda saat ini kian memprioritaskan karir, pendidikan, dan pengembangan diri dibandingkan berkeluarga. Mengapa?
Konflik kepentingan menyulitkan isu mineral kritis masuk dalam kampanye Pilkada. Isu iklim lebih potensial.
Beberapa minggu terakhir ini, media sosial dihebohkan dengan pemberitaan seorang selebritas Instagram (selebram) yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kabar ini terhitung mengejutkan. Sebab…
Olahraga lari saat ini sedang tren. Berbahayakah lari karena FoMO?
‘Influencer’ media sosial telah menjadi kekuatan penting dalam lanskap politik modern. Mengapa ini terjadi dan apa risikonya?
Influencer cilik memang bikin gemas, tapi potensi eksploitasi anak dan dampaknya membuat cemas.
Kultur pembiaran terjadi akibat besarnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik. Ini dapat berdampak buruk pada psikologi individu dan melanggengkan tindakan-tindakan kriminal.
Tampaknya ada kekosongan yang kemudian diisi oleh para influencer misogini.



















