Lingkungan – Artikel, Analisis, Komentar
Menampilkan 76 - 100 dari 1012 artikel
Kenaikan suhu tak hanya soal lingkungan, tetapi juga menekan produktivitas UMKM. Studi terbaru menunjukkan pendapatan usaha kecil & menengah di Indonesia bisa turun hingga 14% akibat panas ekstrem.
Gumuk pasir Kebumen terancam ekspansi tambak udang. Padahal nilai ekonomi gumuk pasir sebenarnya bisa lebih tinggi dan berkelanjutan dibanding tambak udang.
Ekonomi ekstraktif di Indonesia secara konsisten meminggirkan masyarakat lokal—dari penggusuran, hilangnya akses hidup, hingga dampak kesehatan dan lingkungan. Kekayaan SDA dinikmati perusahaan dan elite, sementara warga sekitar tetap hidup dalam kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan yang terus berulang.
Riset terbaru menemukan keberadaan bayi hiu paus di Teluk Saleh – penemuan langka yang memberi petunjuk lokasi kelahiran spesies ini. Penemuan ini terjadi berkat kolaborasi nelayan dan ilmuwan (sains warga).
Bukan sekadar komoditas, kelapa sawit sudah diposisikan sebagai simbol nasionalisme atau palm-nationalism atau sawitisasi.
Krisis minyak global memaksa Indonesia untuk terus melakukan transformasi energi nasional. Salah satu opsi yang potensial dan rasional adalah EV.
Bukan cuma ikan sapu-sapu, ada banyak deretan spesies invasif di perairan kita, termasuk ikan nila.
Pengawasan dan kepastian pasokan terhadap badan usaha perlu ditingkatkan agar pemerintah tidak kecele dari aksi swasta yang lebih memilih mengekspor ketika harga sedang tinggi.
Ada narasi “kebangkitan batu bara” pasca serangan ke Iran, data menunjukkan sebaliknya penggunaan batu bara dan gas justru turun, sementara energi terbarukan meningkat.
Meski berjasa mengurangi sampah, pemulung kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat. Negara juga abai pada mereka Sistem jaminan sosial belum menjangkau pemulung.
Dalam konteks krisis energi, setiap kilometer jalur sepeda yang dibangun adalah investasi untuk mengurangi konsumsi BBM. Diperlukan infrastruktur memadai agar sepeda menjadi opsi moda transportasi utama.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Pengembangan geotermal di Indonesia picu berbagai dampak buruk dan pelanggaran HAM yang merugikan warga lokal. Namun, pemerintah dan perusahaan justru mengabaikannya.
Sapi bali secara genetik sangat mirip dengan banteng. Lantas, bisakah modifikasi gen sapi bali membantu upaya konservasi banteng?
Agar EUDR berhasil, penundaan ini harus menjadi pendorong bagi reformasi politik dan praktis — sehingga membuka jalan bagi kemajuan yang nyata bagi hutan, petani, serta perdagangan yang benar-benar transparan dan adil.
Transisi energi harus adil, tapi apakah kita sudah memahami makna keadilan bagi masyarakat Indonesia?
Gelas kopi plastik sekali pakai yang sering kita gunakan saat takeaway melepaskan ribuan partikel mikroplastik.
For the EUDR to succeed, this delay must serve as a catalyst for both political and practical reforms — unlocking meaningful progress for forests, farmers, and truly transparent, fair trade.
Kasus hiu paus terdampar di Indonesia meningkat, terutama di selatan Jawa, dipengaruhi upwelling dan aktivitas manusia di pesisir.
Jika tak bisa memenuhi aspek berkeadilan, maka proyek transisi energi yang digembar-gemborkan ‘hijau’, tak ada bedanya dibandingkan proyek energi kotor lainnya.
CC BY67,5 MB (download)
Dunia memang sedang bergerak menuju energi yang lebih hijau demi kelestarian Bumi. Namun di lain sisi, ada jutaan pekerja yang menggantungkan hidup dari industri ekstraktif, seperti tambang batu bara…
Seorang pekerja perkebunan memotret spesies mamalia baru ini di Papua Nugini, yang diyakini telah punah selama 6.000 tahun.
Program JETP senilai Rp338,2 triliun belum memberikan hasil signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa dana tersebut dialihkan untuk studi kelayakan dan kepentingan donor, bukan energi hijau lokal.
Dari dapur, perempuan di Poso membangun gerakan untuk memperjuangkan nasib masyarakat di sekitar Danau Poso.
Despite large pledges, Indonesia’s US$20 billion JETP has delivered little. Research shows funds are diverted to feasibility studies and donor interests rather than local green energy projects.
























