Articles on Riset
Displaying 61 - 80 of 117 articles
Di episode ini kami ngobrol dengan Sulfikar Amir, peneliti politik sains dan teknologi di Nanyang Technological University (NTU), Singapura untuk membedah kontroversi BRIN-Eijkman.
Dinamika kuasa yang timpang dan pemaknaan bukti yang cenderung beragam rentan membuat kebijakan malah menjadi eksklusif dan tidak berpihak pada kelompok marginal.
Sejarah telah menunjukkan dampak fatal yang bisa timbul jika ilmu pengetahuan alam disetir kepentingan ideologi, dari penelitian tentang iklim, kesehatan publik, hingga biologi.
Untuk menjadi negara berpendapatan tinggi, Indonesia harus menumbuhkan kembali sektor manufaktor sehingga menyerap lebih banyak tenaga kerja dan mendorong tumbuhnya ekonomi.
Terdapat tiga karakteristik pengunjung dinilai dari spektrum kebahagiaan yang mereka alami ketika menikmati sebuah festival musik.
Kami berbicara dengan dua profesor untuk menjelaskan kekhawatiran mereka terhadap keberadaan dewan pengarah tersebut di salah satu institusi riset terbesar di Indonesia.
Sedikit dosen yang bersedia membagikan hasil riset dengan cara yang lebih mudah diakses dan dipahami. Mereka seakan lupa bahwa masyarakat kesulitan dalam memahami analisis mereka dalam jurnal ilmiah.
Kami bertanya kepada beberapa akademisi untuk menjelaskan pilihan Jokowi untuk tiga lembaga negara yang baru dan tantangan yang harus mereka hadapi ke depannya.
Penggabungan Kemenristek dan Kemendikbud yang bukan kali pertama ini menunjukkan pemerintah bingung dalam menentukan kelembagaan antara bidang riset dan pendidikan. Bagaimana negara lain mengaturnya?
Salah satu isu besar adalah terkait fungsi dan tata kelola lembaga BRIN.
Penggabungan sebagian fungsi ristek ke dalam Kemendikbud, bersamaan dengan pemisahan BRIN menjadi lembaga sendiri, membawa tantangan –- bahkan masalah.
Meskipun sudah diwacanakan sejak 2019, Peraturan Presiden (Perpres) terkait struktur dan kelembagaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) masih belum jelas bahkan setelah hampir 2 tahun.
Ketidakjelasan aturan self-plagiarism di Indonesia menimbulkan pertanyaan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam reproduksi ulang karya ilmiah pribadi?
Dosen akan terus kesulitan memenuhi tuntutan universitas dalam berinteraksi dengan komunitas non-akademik apabila kampus tidak mengintegrasikan tugas ini dengan lebih baik dalam beban kerja mereka.
Kami menghubungi beberapa ahli untuk menyampaikan pandangan mereka terkait dampak pembubaran Dewan Riset Nasional terhadap iklim riset di Indonesia.
Keterlibatan warga difabel dalam ekosistem riset di Indonesia masih sangat rendah. Ini disebabkan oleh berbagai halangan institusional serta budaya yang sekadar “mengasihani” penyandang disabilitas.
Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) meluncurkan program ‘perjodohan’ untuk menghubungkan peneliti di Indonesia dan mereka yang bekerja di luar negeri untuk tingkatkan kolaborasi riset global.
Lebih dari sepertiga dosen dan peneliti Indonesia tidak menerbitkan riset. Ini disebabkan beratnya beban mengajar dosen, buruknya evaluasi kinerja riset, dan kurangnya dosen berkompetensi doktoral.
Institusi pendidikan tinggi kini telah mulai mengambil alih peran negara sebagai kekuatan yang dominan dalam menarik investasi asing - terutama terkait sumber daya manusia dan teknologi.
Dengan jumlah kasus yang masih tinggi, pemerintah seharusnya tidak terburu-buru mengimplementasi new normal, terutama di wilayah dengan tingkat penyebaran virus yang masih tinggi (zona merah)



















