Articles on Jurnal Ilmiah
Displaying 1 - 20 of 24 articles
Lemahnya topik kemitraan, kota berkelanjutan, kesetaraan gender, dan pengurangan ketimpangan terjadi karena persoalan klasik: minimnya dukungan program, pendanaan, dan kerja sama antar disiplin pengetahuan. Indonesia perlu mendorong lebih banyak penelitian di bidang ini untuk memperkuat basis bukti dalam penyusunan kebijakan.
Praktik sitasi bukanlah aktivitas netral, melainkan produk dari sejarah keilmuan, rezim evaluasi, dan relasi kuasa global. Ini terutama berdampak pada mahasiswa dan akademisi di kampus pinggiran.
Dalam konteks riset sosial dan humaniora (soshum), pendekatan ‘slow science’ lebih tepat untuk digunakan karena dapat membantu peneliti memperkuat kedalaman analisis.
Sistem penerbitan akademik seringkali membiarkan kesalahan ilmiah tetap ada karena lebih mengutamakan keuntungan dan prestise daripada koreksi yang cepat.
Akses jurnal internasional di Indonesia masih terbatas. Rencananya, pemerintah akan menerapkan kebijakan berlangganan secara nasional. Tapi apakah ini efektif untuk membentuk ekosistem pengetahuan?
Indeksasi jurnal tidak semestinya menjadi ukuran tunggal dari kinerja penelitian. Sistem evaluasi harus dilengkapi dengan indikator yang menempatkan dampak penelitian sebagai prioritas utama.
Kebijakan publikasi ilmiah yang ada saat ini cenderung menjebak dosen dalam tirani matriks. Apa yang harus dilakukan untuk keluar dari jebakan tersebut?
Di tengah maraknya jurnal predator, bagaimana cara-cara menentukan kualitas jurnal ilmiah?
Apa itu ‘paper mill’ dan bagaimana cara kerjanya?
Dalam beberapa kasus, sulit bagi akademisi untuk mengetahui jurnal mana yang tidak kredibel – sementara di sisi lain, mereka mendapat tekanan untuk segera menerbitkan jurnal.
Berikut sejumlah kelebihan dan kekurangan dari penggunaan Wikipedia oleh mahasiswa dalam riset dan tugas mereka.
Dalam beberapa tahun ke belakang, platform SINTA memegang peran sebagai sistem pemeringkatan kinerja publikasi peneliti. Bagaimana sebenarnya dampaknya terhadap pola produksi riset di Indonesia?
Beberapa orang beranggapan ChatGPT mengancam dunia pendidikan dan riset, tapi bot ini bisa jadi bermanfaat bagi akademisi dan peneliti.
Besarnya tuntutan bagi dosen untuk terbit di jurnal internasionall bereputasi menjadi ruang munculnya “calo publikasi”. Mereka menawarkan jasa penghubung ke jurnal dengan janji penerbitan yang instan.
Banyak perguruan tinggi mengunci akses terhadap skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa. Padahal, berbagai dokumen ini bisa jadi alternatif sumber data di tengah keterbatasan riset di Indonesia.
Pemetaan kami terkait pola riset HI di Indonesia selama dua dekade terakhir menunjukkan produktivitas yang masih cenderung timpang antara peneliti laki-laki dan perempuan.
Proses peer review punya peran penting dalam dunia penerbitan karya akademik. Tapi, prosesnya bisa eksploitatif, tidak transparan, dan lamban. Bagaimana cara memperbaikinya?
Studi kami menemukan bahwa peneliti muda di Indonesia semakin banyak dan inovatif, tapi mereka masih menghadapi banyak tantangan pengembangan karir dan kapasitas.
Sedikit dosen yang bersedia membagikan hasil riset dengan cara yang lebih mudah diakses dan dipahami. Mereka seakan lupa bahwa masyarakat kesulitan dalam memahami analisis mereka dalam jurnal ilmiah.
Ketidakjelasan aturan self-plagiarism di Indonesia menimbulkan pertanyaan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam reproduksi ulang karya ilmiah pribadi?



















