Articles on Negara Berkembang
Displaying all articles
Pengentasan kemiskinan dapat kita lakukan dengan kolaborasi yang mendukung tercapainya harapan anak-anak miskin menuju masa depan yang lebih sejahtera
Job fair tidak efektif menyelesaikan masalah ketenagakerjaan yang masih berkutat pada ketidaksesuaian keahlian, kurangnya informasi, dan keterbatasan akses.
Pendekatan meritokrasi yaitu menempatkan seseorang di suatu tempat strategis sesuai kemampuan dan kemauan diharapkan bisa mengakselerasi pertumbuhan negara.
Indonesia perlu pastikan perluasan pasar dagang dan mendatangkan investasi asing untuk bisa tumbuh secara progresif.
Tata kelola sebuah negara jadi penentu miskin atau makmurnya sebuah negara
Cina dan Indonesia memiliki gagasan serupa soal kesejahteraan bersama. Inilah hal-hal yang mesti dipelajari Indonesia dari Cina untuk bisa memajukan perekonomiannya.
Istilah seperti ‘Dunia Ketiga’ dan ‘negara berkembang’ telah lama ketinggalan zaman.
Industri air kemasan dapat merusak progres berbagai proyek yang bertujuan menciptakan sistem air bersih untuk semua, dengan mengalihkan perhatian ke pilihan yang kurang andal dan kurang terjangkau.
Negara berkembang adalah pemain global yang vital. Menyelamatkan mereka dari kemungkinan gagal bayar utang dapat meningkatkan ketahanan dunia terhadap ancaman resesi global.
Menuju COP27, mereka yang berada di ujung tanduk perubahan iklim sedang berjuang untuk kesepakatan yang lebih baik.
Dekolonisasi sains bukanlah menolak metode ilmiah, melainkan mengajak kita mempertanyakan sifat kolonialis yang terbawa dalam penyebaran sains dari negara Barat.
Dekolonisasi sains menawarkan pijakan penting supaya dunia pendidikan tinggi dan dan sains di Indonesia bisa berhenti berkiblat pada dunia Barat dan menemukan suaranya sendiri.
Kita perlu studi lanjutan yang lebih lama yang berfokus pada bagaimana kepatuhan dan keyakinan pasien tentang obat antihipertensi mereka berubah dari waktu ke waktu.
Masker muka dari kain murah yang dikenakan oleh banyak orang di negara-negara berkembang yang sangat tercemar, ternyata hanya menawarkan perlindungan parsial.
Pakar memperingatkan bahwa waktu penggunaan gadget yang berlebihan meningkatkan risiko obesitas, kebugaran fisik yang rendah, kecemasan dan depresi.
Bank Dunia perlu berubah untuk memikirkan kembali tatanan dunia saat ini, dan memberikan suara yang bermakna kepada kekuatan baru dari negara berkembang.















