Articles on masyarakat pesisir
Displaying all articles
Perempuan dan orang muda di pesisir kerap diselebrasi karena ketangguhannya menghadapi krisis iklim. Namun, di balik resiliensi itu, terdapat ketimpangan, eksklusi, dan keterpaksaan untuk bertahan.
Di COP30, mekanisme implementasi dana loss and damage diharapkan lebih jelas dan adil bagi negara miskin yang paling terdampak krisis iklim.
Warga Muara Gembong buktikan mangrove tidak hanya penting untuk konservasi, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat.
PSN tambak pantura berisiko mengancam mangrove dan petambak kecil
Tulisan ini meninjau resiliensi perempuan dalam menghadapi kerusakan lingkungan akibat ekspansi tambak yang masif di wilayah pesisir Muara Gembong.
Meski murah, banyak penghuni pemukinan daerah rawan bencana tidak mengkalkulasi beban tambahan rutin untuk perbaikan rumah yang jumlahnya tergolong besar
Warga Pulau Mensemut dihantam abrasi yang menenggelamkan dua per tiga ruang hidup mereka. Namun, mereka menolak pindah meski terancam. Mengapa begitu?
Kenaikan muka air laut, badai, dan gelombang tinggi membawa dampak di kawasan pesisir tanpa membeda-bedakan jenis kelamin. Konstruksi gender yang membuat dampak tersebut menjadi berbeda.
Masyarakat pesisir kerap hanya menjadi penonton debat ekspor pasir meskipun mereka yang akan menanggung kerugian terbesarnya.
Pemerintah perlu mengkaji ulang praktik penjualan pulau dan memprioritaskan kemitraan dengan komunitas setempat sebagai solusi pengelolaan pulau yang lebih berkelanjutan.
Jika dana “Loss and Damage” dapat dioperasionalkan, dalam hal apa saja pembiayaan tambahan tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia? Berikut adalah beberapa saran.
Ada beberapa kemiripan menarik antara Klan Metkayina dengan gipsi laut di Indonesia, mulai dari cara hidup, hingga konflik yang mengancam kebudayaan mereka.
Identifikasi dan mengatasi hambatan untuk mencapai partisipasi yang setara dalam kehidupan sosia dan ekonomi dapat meningkat taraf hidup masyarakat pesisir.












