Articles on Berita palsu
Displaying all articles
Aktivitas cek fakta masih terpusat di media sosial, padahal misinformasi juga cepat menyebar melalui aplikasi perpesanan seperti Whatsapp. Notifikasi push yang dipersonalisasi dapat membantu.
Pada Pemilu 2024, fenomena penyebaran disinformasi kemungkinan besar akan terjadi lagi. Seluruh pihak berpotensi terpapar maupun ikut memproduksi disinformasi untuk beragam tujuan.
Secara psikologis, individu yang menerima informasi palsu secara perlahan membangun keyakinan mereka yang baru. Ini bisa mendorong mereka untuk ikut mendukung dan menyebar informasi itu.
Kita sering menganggap misinformasi bisa mengarahkan pada keyakinan yang salah, dan kemudian menyebabkan perilaku antisosial. Sejauh ini hanya ada sedikit bukti yang mendukung argumentasi tersebut.
Disinformasi adalah wabah yang menginfeksi semua bentuk media, tetapi banyak upaya dapat dilakukan mengendalikannya.
Riset kami menemukan bahwa meski Gen Z di Indonesia cenderung percaya pada sumber kredibel, mereka masih kesulitan mendeteksi hoaks yang beredar di media sosial.
Jumlah pengecek fakta di Asia Tenggara terbatas; pengecekan fakta menjadi tantangan yang sulit untuk ditangani,
Gempuran infodemi memerlukan masyarakat terlibat secara penuh.
Banyak berita yang menyesatkan, mulai dari Virus Korona hingga perubahan iklim.
Mengapa beberapa berita palsu membuat kita mengingat hal-hal yang tidak benar? Sebenarnya itu tergantung pada cara kerja memori kita, dan ada beberapa cara agar kita tidak ditipu.
Kita semua dapat membantu dengan berpikir sedikit sebelum kita suka, membagikan atau me-retweet informasi apa pun di media sosial
Pendekatan sensasional dalam pemberitaan gunung api meletus menyebabkan lebih banyak kerusakan.
Kami menggunakan teknik terbaru dari kecerdasan buatan untuk mempelajari bagaimana dukungan atau penolakan berita bohong dapat tersebar di media sosial.
Spektrum berita bohong lumayan luas. Mulai dari yang nyata-nyata ketahuan bohong hingga yang mengecoh dengan halus sehingga kita tidak sadar.
Penelitian di sembilan kota berhasil memetakan 342 kegiatan literasi digital dari 2010-2017. Upaya ini masih terbatas ketika dihadapkan pada masalah gagap digital Indonesia.
Politikus Indonesia melakukan praktik politik pasca-kebenaran dengan membingkai informasi sehingga ia menyentuh emosi namun mengabaikan detail kebijakan dan fakta objektif.















