Pendidikan + Budaya – Artikel, Analisis, Komentar

Menampilkan 26 - 50 dari 931 artikel

Sejumlah anak mengamati lembaran rol film yang telah dicuci di dalam kamar gelap saat lokakarya fotografi analog yang digelar di Turki pada 14 Juni 2026. Yasin Akgul/AFP via Getty Images

Mengapa Gen Z jatuh cinta pada kamera analog?

Bermodalkan gulungan rol film, sebagian generasi muda kini memilih keluar dari belenggu algoritma media sosial demi menikmati hidup dengan cara yang terasa lebih terencana, personal, dan nyata.
As students embrace AI, higher education must move from resistance to instruction. Andrew_t8/Pixabay

Stop policing AI in the classroom, start teaching it

Universities’ crackdown on the use of AI misses the point. They should instead teach it as a vital productivity tool, undepinned by ethics.
SDGs (Sustainable Development Goals) mencakup 17 tujuan utama. Salah satunya adalah pendidikan berkualitas (‘quality education’). Prado/Unsplash

Riset di Indonesia unggul di bidang kesehatan dan teknologi, tapi lemah di isu ketimpangan, gender, dan kota berkelanjutan

Lemahnya topik kemitraan, kota berkelanjutan, kesetaraan gender, dan pengurangan ketimpangan terjadi karena persoalan klasik: minimnya dukungan program, pendanaan, dan kerja sama antar disiplin pengetahuan. Indonesia perlu mendorong lebih banyak penelitian di bidang ini untuk memperkuat basis bukti dalam penyusunan kebijakan.
Para Spice Girls (dari kiri ke kanan): Melanie C, Emma Bunton, Mel B, Victoria Beckham dan Geri Halliwell. Featureflash Photo Agency/Canva

30 tahun Spice Girls: Bagaimana ‘girl power’ mengubah wajah musik pop

Ketika Spice Girls menggebrak belantika musik pada 1996 lewat singel debut ‘Wannabe’, mereka turut merombak arah diskursus seputar gender, seksualitas, kekuasaan, dan budaya pop.
Manusia sebagai subjek ilmu sosial memiliki konteks yang tidak bisa diabaikan dalam penelitian. geralt/Pixabay

Separuh temuan gagal direplikasi: Apa artinya bagi ilmu sosial?

Separuh temuan gagal direplikasi. Apakah kegagalan itu menunjukkan penelitian yang keliru, atau justru mencerminkan sifat realitas sosial yang terus berubah dan bergantung pada konteks?