Articles on sains terbuka
Displaying all articles
Riset menunjukkan, 72 persen artikel dari temuan penelitian ilmu sosial dan perilaku tidak bisa direka ulang, 25 persen menunjukkan temuan yang berbeda, dan 49 persen gagal dikonfirmasi.
Sistem penerbitan akademik seringkali membiarkan kesalahan ilmiah tetap ada karena lebih mengutamakan keuntungan dan prestise daripada koreksi yang cepat.
Kesadaran terkait sains terbuka tidak lantas mendorong penelitian lebih etis. Perlu upaya bersama dari peneliti, institusi pendidikan, hingga penerbit ilmiah.
Program Kampus Berdampak bertujuan agar sains yang diproduksi di universitas dapat disebarkan dan diimplementasikan dengan luas. Ini membutuhkan praktik sains terbuka sebagai pendukungnya.
Praktik sains terbuka dapat berdampak secara langsung pada cara saintis (ilmuwan) berkomunikasi dengan masyarakat luas sehingga memperkuat literasi publik. Mengapa demikian?
Penelitian garda depan untuk coronavirus Wuhan didominasi oleh institusi riset di Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai laboratorium di Eropa - nampaknya tidak ada yang berasal dari Indonesia.
Pada Agustus 2019, pemerintah meluncurkan Repositori Ilmiah Nasional (RIN) sebagai bank data tingkat nasional yang mengumpulkan data primer penelitian. Apa saja manfaat maupun tantangannya?
Iklim penelitian yang kompetitif dan tidak sehat telah mendorong banyak peneliti untuk melakukan kebohongan supaya risetnya banyak dipublikasikan di jurnal. Bagaimana cara mematahkan tren tersebut?
Ketidakpercayaan Prabowo Subianto terhadap hasil penghitungan cepat mendorong lembaga survei lebih transparan untuk meningkatkan akuntabilitas dan kredibelitas riset ilmiah mereka.
Selama puluhan tahun tidak mudah mengakses secara luas hasil karya dan pemikiran para ilmuwan, akibat dominasi penerbit komersial yang mengkapitalisasi ilmu pengetahuan.
Yang paling ganjil dari pemeringkatan Quacquarelli Symonds adalah komponen jumlah sitiran karya ilmiah.










