Kampus Berdampak, sains terbuka, perguruan tinggi, open science, riset

Mengapa sains terbuka dapat mendukung program Kampus Berdampak?

● Kampus Berdampak sulit terwujud tanpa akses terbuka terhadap hasil riset akademis.

● Sains terbuka perlu menjadi bagian dari kebijakan dan ‘outcome’ semua program Kampus Berdampak.

● Pemerintah perlu memberikan insentif, ekosistem, dan akses jurnal untuk mendukung praktik sains terbuka.


Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) merilis program Kampus Berdampak yang bertujuan agar universitas-universitas di Indonesia lebih berdaya dan memiliki dampak langsung ke masyarakat.

Kampus Berdampak mendorong universitas untuk mengidentifikasi masalah di masyarakat dan menjadi aktor untuk memecahkan masalah tersebut.

Semangat Kampus Berdampak potensial untuk menjadi kebijakan positif. Sebab, kebijakan ini mendorong ilmu pengetahuan memiliki hasil (outcome) yang konkret, baik melalui kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, ini akan sulit tercipta jika akses terhadap produk karya tulis ilmiah dan datanya sebagai output dasar dari riset akademisi kampus masih terbatas. Artinya, agar sains yang diproduksi di universitas dapat disebarkan dan diterapkan dengan luas, praktik sains terbuka adalah jawabannya.

Berdayakan praktik sains terbuka

Semangat dari praktik sains terbuka adalah bagaimana sains dapat diakses dengan mudah oleh semua kalangan, baik oleh akademisi ataupun masyarakat luas. Sains terbuka dapat memperkuat ekosistem komunikasi sains di Indonesia yang membuat pengetahuan kampus dapat dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk jurnalis sebagai komunikator sains yang berpengaruh. Dalam konteks ini, praktik sains terbuka menjadi penghubung jurang antara akademisi dengan jurnalis.

Sayangnya, sains terbuka masih mendapatkan tantangan yang berarti di level praktik, khususnya di Indonesia. Karena itu, pemerintah bisa mengadopsi tiga hal dari negara tetangga di kawasan Asia-Pasifik:

1. Insentif tambahan dana riset

open science, sains terbuka, riset, saintis, scientist
AshTproductions/shutterstock

Saat ini, pendanaan pemerintah terhadap riset perguruan tinggi di Indonesia masih dominan. Dosen dan peneliti di kampus-kampus harus bersaing ketat untuk mendapatkan pendanaan.

Teranyar, hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Kemdiktisaintek tahun 2025 memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi. Ada lebih dari 50.000 proposal penelitian dan hampir 10.000 proposal pengabdian telah diajukan melalui platform BIMA Kemdiktisaintek. Adapun hasilnya hanya ada 16.460 proposal penelitian dan 4.126 proposal pengabdian yang mendapat pendanaan.

Namun, skema pendanaan riset dari pemerintah belum meminta output dengan akses yang terbuka. Padahal, pendanaan riset bersumber dari uang rakyat sehingga perlu dipertanggungjawabkan secara luas. Dengan kata lain, output penelitian dengan akses yang terbuka, dapat membantu akademisi lain dan publik umum untuk mengetahui hasil-hasil riset yang menggunakan dana publik. Praktik ini juga akan mengurangi cost yang dikeluarkan oleh akademisi dan publik umum untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Pemerintah bisa mencontoh kebijakan open access Australian Research Council (ARC). ARC memandatkan seluruh hasil riset yang didanai harus terbuka bagi publik. Ini mencakup publikasi hasil penelitian dan, apabila memungkinkan, data riset yang relevan. Tujuannya untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan dampak dari hasil penelitian yang didanai publik.

Kebijakan ARC tersebut diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas, mengurangi duplikasi riset, dan mempercepat inovasi. Pasalnya, selain artikel ilmiah, peneliti yang melakukan kegiatan riset dengan dana ARC harus melakukan praktik sains terbuka dalam semua bentuk publikasi peer-reviewed (seperti artikel jurnal dan prosiding konferensi) serta, bila memungkinkan dan relevan, juga data riset yang mendasari publikasi tersebut—dengan tetap mempertimbangkan isu privasi, keamanan, atau kepemilikan intelektual. Dalam konteks ini, praktik sains terbuka menjadi sebuah “tekanan yang positif” bagi peneliti agar hasil risetnya dapat diakses dengan mudah oleh publik.

2. Penguatan ekosistem

Gerakan open access memerlukan ekosistem dan infrastruktur pendukung. Sayangnya, pemerintah belum menciptakan keduanya secara serius.

Sebagai perbandingan, Malaysia telah bergerak cepat menggalakkan praktik sains terbuka sejak 2016. Saat ini, Malaysia sudah memiliki Malaysia Open Science Platform (MOSP) yang dilakukan oleh Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Malaysia (ASM). Secara filosofis, mereka menyatakan bahwa gerakan ini bertujuan untuk menjadikan data penelitian Malaysia sebagai aset nasional.

Kebijakan ini juga telah menghasilkan ekosistem sains terbuka yang cukup komprehensif. Malaysia telah memiliki panduan terkait sains terbuka dalam riset yang didanai publik, pelatihan terhadap sekitar 260 pengelola data, integrasi 9 repositori ke dalam database ONE Platform, serta melakukan komunikasi sains dan sosialisasi sains terbuka di media sosial dan siniar. Hasilnya, terdapat 508 dataset terkait biologi, kimia, dan matematika serta 658 dataset terkait bisnis, keuangan, dan ekonomi.

Tanpa penguatan ekosistem, sains terbuka di Indonesia akan tetap menjadi gerakan yang kurang berdampak. Padahal, yang dibutuhkan adalah ledakan gerakan di tengah ketertinggalan yang cukup jauh atas praktik sains terbuka yang telah mulai diterapkan dan berdampak di level internasional.

3. Akses langganan jurnal secara nasional

Kampus Berdampak, Sains Terbuka, Open Access, Perguruan Tinggi
Postmodern Studio/shutterstock

Selain mendorong skema publikasi dalam format sains terbuka, Indonesia juga harus segera membuka keran ke jurnal-jurnal ilmiah di sebanyak mungkin kampus. Apalagi di tengah pengetatan anggaran pada level pendidikan tinggi.

Contoh baik bisa dilihat dari skema One Nation One Subscription yang diinisiasi oleh pemerintah India. Skema ini bertujuan untuk menghilangkan kesenjangan akses terhadap hasil-hasil riset di jurnal internasional bereputasi yang ditutup oleh paywall dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua akademisi untuk mendapatkan pengetahuan dari hasil riset tersebut.

Sains terbuka untuk kampus berdampak

Mengedepankan ekosistem sains terbuka artinya menjadikan akses terhadap pengetahuan sebagai bagian penting dari Kampus Berdampak. Sebab, tanpa terbukanya akses terhadap hasil riset dan inovasi yang dilakukan oleh akademisi di perguruan tinggi, sulit bagi kampus untuk menerapkan sains secara lebih konkret.

Kegiatan sosialisasi program serupa ONOS yaitu IndoneSia Akses Tunggal #SATU Jurnal Terintegrasi hasil kolaborasi antara Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), dan Kemdiktisaintek menjadi angin segar bagi akademisi di Indonesia.

Namun, sosialisasi saja tidak cukup. Pemerintah perlu mengawal agar inisiasi tersebut segera diterapkan. Kemdiktisaintek perlu mempromosikan dan memberi dukungan secara luas terhadap praktik sains terbuka di universitas-universitas. Dengan begitu, program Kampus Berdampak dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.