Articles on Pernikahan
Displaying 1 - 20 of 26 articles
Angka pernikahan dan kelahiran yang rendah membuat laju transisi Indonesia menjadi negara berpopulasi tua makin cepat
Terjadi pergeseran nilai mengenai pernikahan di antara generasi muda. Mereka enggan untuk segera menikah karena ingin mengejar pendidikan dan karier dahulu.
Tepuk Sakinah bisa menjadi alat bantu menghapal pilar pernikahan, namun belum tentu bisa mencegah perceraian.
Ketegangan emosional akibat hubungan tidak harmonis dapat picu stres, kecemasan, bahkan depresi—terutama jika perempuan merasa terisolasi tanpa dukungan sosial.
Konseling pranikah berpotensi kurangi risiko perceraian hingga 30%. Apa sih yang dibahas dalam sesi ini?
Generasi muda saat ini kian memprioritaskan karir, pendidikan, dan pengembangan diri dibandingkan berkeluarga. Mengapa?
CC BY66.5 MB (download)
Topik mengenai pernikahan sempat panas di media sosial beberapa waktu yang lalu. Kata kunci “Marriage Is Scary” sempat menjadi trending topic di X (dahulu twitter) selama beberapa hari. Tren ini dimulai…
Kohabitasi tidak lazim di Indonesia, tapi masih banyak dilakukan terutama di wilayah Indonesia Timur. Mengapa demikian?
Perceraian masih jarang terjadi di kalangan pejabat and kemungkinan besar akan menimbulkan konsekuensi politik dalam beberapa bulan ke depan.
Studi literatur menemukan bahwa perempuan Indonesia mulai menunda untuk menikah pada usia matang. Persepsi para kaum muda tentang pernikahan dan korelasinya dengan kualitas hidup telah bergeser.
Laki-laki di pedesaan Cina lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan santai atau sosial, atau sekadar berkumpul dan istirahat.
Banyak pasangan yang menikah di luar negeri lalu mencatatkannya di kantor catatan sipil di Indonesia. Ada pula yang mengubah identitas agama resminya di KTP.
Kontroversi dan sulitnya pelaksanaan perkawinan beda agama di Indonesia merupakan suatu paradoks dalam wacana kebebasan beragama dan hak asasi manusia.
Bisakah ekonomi dan pasar memberi perempuan jalur alternatif untuk mencapai emansipasi?
Penelitian terbaru saya menemukan bahwa upaya individu lajang untuk mencari kebahagiaan di dunia maya ternyata sia-sia.
Posisi Islam tentang kekerasan dalam rumah tangga diambil dari Al-Qur'an, sunnah nabi, dan fatwa.
Pilihan untuk menunda pernikahan atau tetap melajang tampaknya menjadi keputusan yang semakin sering dilakukan, baik sukarela atau tidak.
Sampai saat ini, upaya untuk meningkatkan gizi ibu sebagian besar difokuskan pada dukungan selama kehamilan dan menyusui. Padahal, penting sekali meningkatkan status gizi perempuan sebelum hamil.
Apakah pernikahan Anda lebih langgeng jika Anda dan pasangan cocok secara genetis?
Perempuan muda bisa mengalami stres bila suami yang berasal dari generasi lebih tua tidak bisa mengimbangi gejolak dan dinamika kehidupan mudanya.



















