Articles on literasi keuangan
Displaying 1 - 20 of 48 articles
Inklusi keuangan memperluas akses layanan keuangan, tetapi kesejahteraan baru tercapai jika akses tersebut didukung literasi, perilaku finansial sehat, dan kebijaksanaan dalam mengelola uang.
Kepercayaan nasabah jadi tantangan besar di 2026. Perbankan harus segera bertransformasi dan memanfaatkan AI untuk memperkuat posisinya sebagai jangkar finansial yang aman bagi seluruh masyarakat.
Dalam kasus Ayu Puspita, keuntungan yang dijanjikan pelaku adalah jasa WO—bukan imbal hasil investasi. Skema Ponzi yang tak diimbangi manajemen keuangan yang baik dari pelaku berpotensi semakin memperparah kerugian konsumen.
Rahasia finansial keluarga diuji oleh gempuran gaya hidup digital. Strategi bijak jadi kunci kesejahteraan
Belum banyak ruang yang mempertemukan dua perspektif untuk saling memahami dan menyamakan perspektifnya terhadap aktivitas investasi/menabung lintas generasi.
Menjadi orangtua muda saat ini menghadapi 2 tantangan sekaligus yaitu mengolah keuangan mereka dan anak-anaknya di tengah tren belanja impulsif
Inklusi tanpa literasi membuat Gen Z rentan terjebak keputusan keuangan yang tak bijak.
Ketidakpuasan finansial bisa berujung pada perceraian. Padahal, ini bisa dimitigasi melalui perencanaan sedari awal. Simak kiat pengelolaan keuangan agar rumah tanggamu terus harmonis.
Hidup di zaman sekarang ibarat berada di ‘roller coaster’ tanpa sabuk pengaman. Generasi muda mesti pintar beradaptasi dan mencari cara baru untuk bertahan.
Edukasi dini terhadap anak tentang keuangan sangat penting untuk membentuk karakteristik finansial anak di masa depan
Indonesia berpotensi mengembangkan ekonomi syariah, namun masih menghadapi tantangan perilaku keuangan tidak bertanggung jawab. Edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan syariah diperlukan.
“Crowdlending” tengah populer di Asia Tenggara. Di tengah opini negatif terhadap platform pinjaman daring, bagaimana caranya membangun kepercayaan dan citra positif bagi investor potensial?
Pinjol ilegal makin meresahkan. Anies menawarkan penguatan koperasi simpan pinjam sebagai opsi legal dan aman bagi masyarakat yang membutuhkan uang. Simak pandangan ahli soal pernyataan Anies.
Pendidikan tinggi bukan barang murah, tak jarang orang mesti berutang untuk mendapat gelar sarjana. Namun, tepatkah mahasiswa mengandalkan pinjol untuk membayar iuran kuliahnya?
Klaim Mahfud bahwa 80 juta orang Indonesia pernah berjudi daring tak berdasar.
Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) harus menjadi contoh komitmen pemerintah untuk menjawab tantangan di era teknologi maju dan mengembangkan keuangan digital Indonesia.
Betulkah pemahaman literasi keuangan yang cukup bisa menghentikan kebiasaan berutang ke penyedia pinjol dan berjudi daring?
Mengapa kita tak kunjung puas meski telah memiliki banyak barang yang kita impikan? Ini penjelasan psikologinya.
Melek keuangan belum tentu menyelamatkan kita dari manipulasi bandar judi online. Ini penjelasannya dari sisi keuangan perilaku.
Mulai berinvestasi reksa dana sejak dini bisa meringankan beban orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik untuk buah hatinya.



















