Articles on LGBT
Displaying 1 - 20 of 23 articles
Popularitas istilah “boti” menunjukkan bagaimana prasangka dinormalisasi menjadi humor dan identitas kelompok, diperkuat lingkungan sosial dan media digital.
Ketika murid SD bertanya tentang LGBTQ+, guru tidak cukup hanya melarang atau menghindar. Lalu, bagaimana cara menjawab yang tepat sesuai perkembangan anak?
Tes genetik kini wajib bagi atlet perempuan di Olimpiade. Hal ini dinilai terlalu menyederhanakan fakta biologis dan dapat mendiskriminasi sejumlah atlet perempuan.
Ketegangan emosional akibat hubungan tidak harmonis dapat picu stres, kecemasan, bahkan depresi—terutama jika perempuan merasa terisolasi tanpa dukungan sosial.
Mereka yang mengucilkan kelompok orang tertentu dari kerajaan Allah memilih untuk mengabaikan ajaran Yesus.
Ada asumsi bahwa orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai aseksual itu juga ‘aromantis’ – bahwa mereka tidak tertarik atau tidak bisa menjalin hubungan romantis. Benarkah?
Secara tradisional, untuk diterima menjadi bagian dari kehidupan biara Buddha, seseorang harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memiliki identitas seksual yang “jelas”.
Pandemi COVID-19 secara tidak proporsional berdampak pada individu LGBT+, khususnya mereka yang hidup dengan HIV, pekerja seks, individu transgender, dan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Praktik meminggirkan individu LGBTQIA+ dari ruang religius punya sejarah yang panjang dan berkelok. Riset baru saya mengungkap pengalaman 24 orang di Australia yang mengalami hal tersebut.
Politik homofobia kini tidak hanya ditujukan kepada kelompok non-heteroseksual saja, tetapi juga kepada orang yang memiliki pemikiran yang inklusif terhadap kelompok minoritas seksual.
Pengetahuan sains terbukti berhubungan dengan sikap positif terhadap kelompok minoritas seksual. Namun, ini sangat tergantung dengan persepsi atau perasaan terancam yang dimiliki seseorang.
Gedung kantor perwakilan diplomatik merupakan wilayah yurisdiksi ekstrateritorial dari negara pengirim, sehingga pada gedung tersebut berlakulah hukum negara asalnya, bukan negara lokasi gedungnya.
Dunia maya pun terbukti masih belum bisa menjadi ruang aman bagi kelompok minoritas gender untuk berekspresi.
Para jurnalis tidak mendapatkan sarana, akses, serta materi yang cukup atas isu-isu LGBTIQ. Inilah yang membuat hasil pemberitaan dan tulisan mereka cenderung bernada diskriminatif.
Hubungan antara Islam dengan keberagaman gender dan seksualitas tidak selalu dapat dipahami secara dikotomis, melainkan dialektis dan dapat dikompromikan
Seiring komunitas akademik dunia Barat dan Indonesia menjalin kerjasama, kita harus terus mencari jalan bersama untuk melawan diskriminasi, termasuk terhadap komunitas LGBT.
Popularitas genre Boys Love sudah marahk diproduksi, khususnya di Thailand. Fenomena tersebut terjadi karena adanya proses pertukaran budaya dan permintaan penggemarnya. Lalu, bagaimana di Indonesia?
Pembungkaman atas isu LGBT di kampus sudah berlangsung lama - paling tidak sejak era Orde Baru - dan sayangnya terus terjadi hingga kini. Namun, perlawanan tidak berhenti.
Kelompok yang rentan semakin berisiko saat bencana terjadi. Pandemi jelas tidak bisa dihadapi sendiri.
Di tengah-tengah derasnya sanksi DO terhadap mahasiswa yang terlibat aktivisme, akademisi menganggap kebijakan #KampusMerdeka belum memperhatikan hak sipil mereka dengan baik.



















