Articles on Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Displaying all articles
Meski perempuan semakin berpendidikan dan semakin banyak yang bekerja, kontrol ekonomi tetap mengakar dalam praktik kehidupan rumah tangga yang masih patriarkis.
Maraknya kasus KDRT menunjukkan terkoyaknya ketahanan keluarga serta rusaknya kualitas keluarga di Indonesia. Solusinya membutuhkan komunikasi dan interaksi yang baik.
Beberapa minggu terakhir ini, media sosial dihebohkan dengan pemberitaan seorang selebritas Instagram (selebram) yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kabar ini terhitung mengejutkan. Sebab…
Perlu ada intervensi khusus bagi pelaku KDRT melalui konseling, mengingat masih tingginya angka kemungkinan korban kembali ke pasangannya.
Dukungan teman dan keluarga sangat penting bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Dengan adanya kemajuan teknologi, salah satunya media sosial, publik sebenarnya punya peluang lebih besar untuk menyuarakan hak-hak korban KDRT dan membantu mereka mendapatkan akses keadilan.
Banyak sistem pemerintahan kolonial yang menerapkan peraturan dan kerangka hukum yang sangat merugikan perempuan.
Penyedia platform dan industri teknologi dapat melakukan banyak hal untuk mengurangi bahaya dengan menyiapkan keamanan pengguna sedari awal sebuah produk dirancang.
Data kekerasan terhadap anak masih belum terpublikasi dengan baik. Data dari berbagai institusi juga masih tersebar-sebar.
Tingkat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat selama pandemi
Perempuan korban perkosaan inses tidak bisa memberontak karena tekanan lingkungan dan ketergantungan finansial, dan anggota keluarga lain tidak memiliki kekuatan untuk menolong korban.
Seperempat laki-laki pernah memperkosa atau memaksa perempuan untuk berhubungan seksual.
Pada kasus perempuan miskin, kemiskinan memperparah konteks KDRT yang mereka hadapi.
Sudah 14 tahun sejak Indonesia memberlakukan UU PKDRT, tetapi korban KDRT masih menghadapi stigma ketika bersuara.













