Ketidakbecusan pemerintah dalam mengurus bencana memengaruhi narasi kemerdekaan di Aceh
Konflik GAM yang berlangsung selama puluhan tahun di Aceh berakhir pascatsunami dahsyat 2004. Namun, wacana kemerdekaan kini kembali mencuat.
Konflik GAM yang berlangsung selama puluhan tahun di Aceh berakhir pascatsunami dahsyat 2004. Namun, wacana kemerdekaan kini kembali mencuat.
Salah satu usaha untuk merawat memori atas bencana adalah dengan membangun monumen. Namun, banyak monumen bencana di Aceh yang justru tidak memicu ingatan penyintas akan tsunami. Mengapa demikian?
Dari peristiwan Tsunami Aceh yang terjadi 20 tahun lalu, kita belajar urgensi membangun sekolah yang tangguh, terutama di wilayah rawan bencana.
Perempuan Aceh telah berkontribusi pada pembangunan pascakonflik dan tsunami. Namun, kebijakan-kebijakan yang ada belum mencakup apa yang mereka butuhkan, bahkan cenderung mendiskriminasi perempuan.
Dua dekade paska konflik dan bencana, semestinya sudah cukup untuk mengingatkan kita tentang pentingnya perempuan memiliki akses dan partisipasi bermakna.
Stres akibat bencana alam meningkatkan kebiasaan merokok para penyintas. Pemerintah perlu menyiapkan sejumlah kebijakan, termasuk pengadaan layanan psikososial dalam strategi manajemen bencana.
Penetapan Qanun Bahasa Aceh menimbulkan pertanyaan penting. Seberapa besar peran bahasa dalam membangun perdamaian di wilayah pasca-konflik?
Kejadian Gempa dan Tsunami Aceh 2004 tercatat sebagai salah satu bencana alam terparah dalam sejarah. Tragedi ini memberikan pembelajaran penting untuk meningkatkan mitigasi risiko bencana.
Dari konflik bersenjata hingga tsunami dahsyat tahun 2004, keberadaan Tionghoa Aceh hampir terlupakan meskipun telah menetap di provinsi ini selama berabad-abad.
Perkembangan teknologi dan globalisasi tak hanya membuat saluran narasi ‘smong’ semakin beragam, tetapi juga berisiko memudarkan kearifan lokal ini jika kita tidak berupaya merawatnya.