Pendidikan + Budaya – Artikel, Analisis, Komentar
Menampilkan 226 - 250 dari 931 artikel
Dua puluh enam tahun setelah Reformasi 1998, penelitian mengungkap adanya harmoni antaretnis di berbagai aspek kehidupan komunitas Tionghoa dengan masyarakat lain.
Proyek revisi sejarah nasional merupakan usaha yang sistematik dan terencana untuk mendukung rezim, karena hanya melibatkan akademisi atau sejarawan yang dekat dengan pusat kekuasaan.
Survei tahun 2025 pada 4.501 siswa SMA di empat kota di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 3 kategori siswa dalam pendidikan perubahan iklim: si Ragu, si Pelajar, dan si Advokat.
Keterlibatan militer dalam kehidupan sipil, khususnya dunia akademis, dapat mengancam kebebasan akademis dan pada akhirnya membahayakan perguruan tinggi serta ilmu pengetahuan. Mengapa?
Gandang Ahung bukan hanya warisan budaya, tapi juga cara suku Dayak Katingan Awa memahami hidup, kematian, dan hubungan dengan alam. Mengapa demikian?
Realitas tidak relevan dalam karya populer yang dikonsumsi berulang kali dalam jangka panjang dapat memunculkan keyakinan palsu.
Tantangan untuk mengembangkan karier di era transisi yang cepat dan tidak dapat diprediksi menuntut zilenial untuk beradaptasi.
Banyak kaum muda percaya pseudosains karena mampu memberikan validasi terhadap apa yang mereka rasakan dan membantu mereka memahami diri sendiri.
Generasi muda saat ini hidup di era yang penuh dengan ketidakpastian. Mereka menghadapi minimnya lapangan kerja, faktor orang dalam, ‘career mismatch’ hingga ketiadaan jaminan atas hidup yang layak.
Dari taman kota hingga dunia maya, klub baca, #BookTok, dan Dua Lipa menghidupkan budaya baca lintas generasi di tengah tantangan literasi Indonesia.
Buku ‘self-help’ mendominasi kategori buku nonfiksi. Namun, tidak semua buku ini berbasis fakta.
Tantangan utama dalam pemanfaatan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia mencakup aksesibilitas di wilayah terpencil serta rendahnya literasi digital di kalangan tenaga pendidik.
Pemerintah berencana menerapkan kurikulum AI. Tapi tanpa pelatihan yang komprehensif, program ini justru berisiko menciptakan pembelajaran yang superfisial dan bahkan menyesatkan.
Meskipun gendang ‘Moko’ sangat populer di kepulauan Alor-Pantar, sejarah dan asal-usulnya masih relatif samar dan seolah-olah menghilang ditelan waktu. Penelitian mengungkap alasannya.
Kemunculan AI yang kini bisa menghasilkan gambar serupa karya seni terkenal menimbulkan kekhawatiran baru, khususnya soal hak cipta dan data pribadi. Mengapa?
Istilah ‘retret’ merujuk pada praktik Kristiani dengan konteks religius. Namun, pemerintah dan organisasi sering menggunakannya secara manasuka. Apa akibatnya?
Film superhero telah lama mendominasi industri perfilman dunia, tapi tren ini menurun akhir-akhir ini. Kejenuhan pasar dan kesadaran konsumsi anak muda menjadi penyebabnya.
Glorifikasi terhadap institusi negeri adalah warisan masa kolonial yang melanggengkan diskriminasi. Sayangnya, negara justru memfasilitasi glorifikasi tersebut. Mengapa?
Gen Z ramai-ramai ‘thrifting’! Gaya unik, harga ramah kantong—Benarkah ini karena peduli lingkungan atau cuma tren yang bikin belanja makin kalap?
CC BY99,9 MB (download)
Literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan dasar membaca dan berhitung. Keduanya adalah fondasi krusial bagi keberlanjutan proses belajar serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial. Literasi membuka…
K-pop telah memengaruhi praktik berbahasa anak muda Indonesia. Elemen bahasa digunakan oleh fans K-pop sebagai penanda identitas lokal-global, ekspresi keakraban, dan penghubung identitas.
Despite the strong popularity of the ‘Moko’ drums in the Alor-Pantar archipelago, their history and origins are still relatively obscure and seem to fade into the mists of time. Research reveals why.
Koding dan kecerdasan artifisial akan jadi mata pelajaran SD hingga SMA/SMK. Benar-benar diperlukan atau justru memperlebar jurang perbedaan?
Kasus band Sukatani memunculkan pertanyaan, apakah punk akan tetap menjadi gerakan kritis terhadap ketidakadilan sosial? Atau justru adaptif dengan tekanan eksternal?
Masifnya aktivitas digital di Indonesia membutuhkan edukasi literasi, terutama bagi pelaku aktif seperti ‘content creator’. Bagaimana caranya?























