foto lutung jawa terinfeksi hepatitis b akibat perdagangan satwa
Tim peneliti memeriksa lutung jawa timur. (Krisnoadi Rahardjo, Rima Ratnanggana Prasetya), Author provided (no reuse)

Virus hepatitis B ditemukan pada orangutan, owa, dan kini lutung jawa: Pasar hewan penyebabnya?

• Virus hepatitis B terdeteksi pada lutung jawa yang selama ini dianggap kebal.

• Perdagangan satwa liar membuka jalur penularan antarspesies.

• Hewan juga berhak mendapatkan skrining rutin dan vaksin penyakit menular.


Kita mungkin mengenal hepatitis B sebagai virus yang menginfeksi manusia, bahkan sejak Zaman Perunggu. Virus ini menular melalui darah dan cairan tubuh.

Namun sebenarnya, virus hepatitis B sudah berevolusi bersama hewan bertulang belakang selama lebih dari 200 juta tahun. Seperti HIV atau COVID, kuat dugaan virus ini berasal dari spesies hewan lain (zoonosis), meski asal-usulnya masih menjadi teka-teki.


Read more: Apa itu limpahan virus? Wabah flu burung tekankan perlunya deteksi dini untuk cegah pandemi besar berikutnya


Saya bersama tim sejak 2021 meneliti penularan hepatitis B, termasuk pada hewan. Yang mengejutkan dari temuan terbaru kami: hepatitis B ditemukan pada lutung jawa.

Ini adalah deteksi pertama virus hepatitis B pada lutung jawa, dan jenis keempat Monyet Dunia Lama (Old World Monkey/Cercopithecidae) yang terdeteksi membawa virus ini di seluruh dunia.

Temuan riset kami menambah panjang daftar inang keluarga virus hepatitis B yang sebelumnya mencakup berbagai primata lain, kelelawar, hewan pengerat, hingga burung.

Menyebar ke beragam primata

Tim kami dari Universitas Airlangga dan Universitas Kobe, Jepang, memeriksa 237 primata dari 10 spesies beserta 65 orang pengasuh mereka di Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan, selama 2021 hingga 2023.

Banyak owa dan orangutan terinfeksi hepatitis B. DNA virus terdeteksi dalam 17 dari 68 owa, dan 4 dari 50 orangutan. Kadar virus dalam darah mereka pun tinggi.

Bahkan, di salah satu pusat rehabilitasi, sebanyak 82,3% owa jawa yang kami periksa terbukti positif hepatitis B.

peta sebaran hepatitis b pada lutung jawa owa primata indonesia
Provinsi lokasi pengambilan sampel. Siluet menunjukkan kelompok primata yang diperiksa. Author provided (no reuse)

Ini bukan temuan baru. Lebih dari satu dekade lalu, kolega kami di Universitas Airlangga juga menemukan 15 dari 142 owa terinfeksi hepatitis B di Kalimantan.

Sementara itu, dari 73 ekor monyet ekor panjang yang kami periksa, tak satu pun yang positif.

Penemuan mengejutkan

Monyet ekor panjang dan lutung termasuk Monyet Dunia Lama, yaitu kelompok monyet penghuni Afrika dan Asia.

Secara alami, mereka dianggap kebal terhadap infeksi hepatitis B karena selubung terluar virus ini diyakini tidak cocok dengan selaput sel hati mereka.

Di luar dugaan, 2 dari 46 lutung (Trachypithecus spp.) terdeteksi membawa DNA virus hepatitis B. Keduanya merupakan lutung jawa timur (T. auratus), meski satu individu spesies ini kami peroleh dari Jawa Barat.

Sementara itu, ada juga enam ekor lainnya, termasuk seekor lutung jawa barat (T. mauritius), yang memiliki antibodi hepatitis B. Ini berarti mereka pernah terpapar virus tersebut.

Virus berpindah antarprimata?

Kami juga merunut silsilah genetik virusnya. Hasilnya, virus dari lutung hampir identik (96,3%) dengan virus dari owa jawa.

Besar kemungkinan lutung dalam studi kami tertular hepatitis B dari owa. Perpindahan virus melintasi batas spesies seperti ini disebut limpahan virus (viral spillover).

Owa dan lutung memang berbagi habitat di hutan Jawa Barat. Namun, sulit membayangkan dua satwa yang hidup di tajuk pohon dan memakan daun serta buah berkontak cukup intens sehingga virus bisa menular lewat darah.

Begitu pula di pusat rehabilitasi. Satwa di sana menghuni kandang berdasarkan jenisnya. Namun, primata di dalam penangkaran acap kali berasal dari satwa telantar, atau hasil sitaan dari pedagang satwa.

Perdagangan virus

Sebuah studi tentang perdagangan satwa di Asia Tenggara mencatat bahwa lebih dari 35 juta satwa diekspor dari kawasan ini antara 1998 dan 2007.

Di Indonesia, perburuan dan penangkapan satwa telah menimpa seluruh 65 jenis primata asli kita.

Lutung dan owa berstatus dilindungi. Namun, lutung jawa adalah salah satu dari tiga jenis primata yang secara rutin ditemukan oleh organisasi perlindungan hewan, ProFauna, di pasar satwa Jawa dan Bali.

lutung jawa di ragunan penangkaran
Lutung jawa di penangkaran. (Kartika22/Wikimedia Commons), CC BY

Sementara lembaga lainnya, Yayasan IAR Indonesia, memperkirakan sekitar 130 owa diperdagangkan setiap tahun.

Ukuran lutung dan owa juga mirip, sekitar 6 - 8 kilogram, sehingga mudah dikandangkan bersama. Mereka dijual sebagai bayi. Untuk menangkapnya, induknya biasanya ditembak terlebih dahulu.

Sebuah survei terhadap 14 pasar satwa di Jawa dan Bali telah mengidentifikasi 17 virus zoonosis yang berpotensi menyebar. Penulisnya menyebut kondisi pasar itu praktis menempatkan bersama beragam jenis hewan, meski tidak pernah saling berkontak langsung di alam.

Area limpahan baru

Limpahan virus kadang kita anggap sebagai kejadian biologis yang terjadi secara acak. Padahal, limpahan dapat terjadi di tempat-tempat tertentu, yang kini hampir selalu disebabkan oleh aktivitas manusia.

Di Universitas Kyoto, saya dan kolega mengembangkan kerangka yang kami sebut spillover frontier (batas terdepan limpahan), yaitu area terjadinya kontak antarspesies akibat aktivitas manusia. Area ini menjadi lokasi penularan virus yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Tengok saja peristiwa merebaknya infeksi virus SARS dan COVID yang diduga berasal dari pasar hewan. Area lainnya bisa berasal dari peternakan, seperti pada flu burung dan virus Nipah.

Perubahan lahan ekstraktif dari deforestasi hingga ekowisata juga bisa memantik migrasi virus ke spesies lain karena menggusur satwa inang dari habitatnya. Contohnya ada pada virus Hendra dan Ebola.

Perubahan iklim akan melipatgandakan risiko ini dalam 50 tahun ke depan. Indonesia dan Asia Tenggara merupakan pusat risikonya, berkat keanekaragaman mamalia tertinggi di dunia, beban iklim yang berat, serta perusakan alam yang semakin parah.


Read more: Riset: Orang utan bersama separuh spesies primata Indonesia akan punah pada 2050 akibat perubahan iklim


Lebih dari manusia

Primata dengan virus hepatitis B dalam studi kami tidak tampak sakit. Namun, pada monyet wol di Amerika Selatan, misalnya, virus serupa dapat menyebabkan peradangan hati yang berat.

Selain itu, model laboratorium juga memaparkan kemungkinan virus dari owa dan orangutan menginfeksi sel hati manusia. Wajar apabila kita khawatir tentang risiko penularan dari primata.


Read more: Semakin banyak kita membabat hutan, semakin tinggi risiko muncul penyakit baru bagi manusia


Namun, satwa juga hendaknya dipandang sebagai pihak yang perlu dilindungi, bukan semata-mata sumber risiko. Ironisnya, tidak ada program vaksinasi hepatitis B untuk primata meski kita mengetahui efektivitas vaksin ini justru setelah diuji pada mereka.

Dunia memang mengenal konsep One Health untuk pengendalian penyakit menular, dengan menyatukan “kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan”.

Sayangnya, dalam praktik, One Health sering kali tetap berpusat pada manusia. Risiko penyakit pada hewan baru ramai dibahas sejauh ia mengancam kita.

Padahal, manusialah yang menangkap dan menjejalkan owa dan lutung bersama, merusak harmoni antarspesies.