Articles on Virus corona
Displaying 61 - 80 of 83 articles
Tidak jelas berapa lama perlindungan akan bertahan, karena penelitian ini baru berlangsung selama tiga bulan.
Agar bisa mengantisipasi dan menangani munculnya pandemi baru dengan lebih baik, perlu perubahan paradigma dengan melihat interaksi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, dan ekonomi.
Produsen dan konsumen tetap harus mengikuti protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun minimal 20 detik sebelum dan setelah memegang makanan kemasan beku.
Dalam riset obat, prinsip altruisme sangat kental dalam memutuskan keikutsertaan peserta uji klinik. Prinsip ini menggariskan adanya kemauan untuk berkorban dan berbuat baik untuk sesama.
Meski perubahan adaptif mungkin belum terjadi, semua data yang tersedia pada tahap ini menunjukkan bahwa kita menghadapi virus yang sama sejak awal pandemi.
Meski waktu berakhirnya pandemi tidak dapat diprediksi, kita perlu mendorong dan mendukung pasien dengan kanker progresif untuk tetap mendapatkan terapi yang diperlukan.
Cara pandang menyalahkan individu atau kelas sosial di Indonesia terus dipakai oleh elit penguasa sejak zaman kolonial hingga kini untuk membenarkan praktik peminggiran yang mereka lakukan.
Di tengah laju virus yang makin cepat dan penyebaran yang makin luas, kita butuh data yang akurat, kebijakan dan kepemimpinan yang mampu menjawab dampak wabah ini berdasarkan pertimbangan sains.
Apakah pembatasan kali ini akan benar-benar mampu mencegah “lumpuhnya” rumah sakit?
Jika kita mengembangkan vaksin sendiri, memproduksi sendiri, serta pembaruan terus-menerus, harapannya kebutuhan dosis vaksin bagi masyarakat Indonesia dapat segera terpenuhi.
Pembatasan aktivitas manusia memberikan waktu bagi ekosistem laut untuk memulihkan diri. Namun, kehadiran manusia dibutuhkan untuk program konservasi laut.
Hingga saat ini belum terdapat bukti kuat bahwa kanker meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19.
Ini virus jenis baru yang belum pernah menyebar sebelumnya, sehingga setiap orang berisiko terinfeksi. Kematian akan tinggi sampai ditemukan vaksin atau kekebalan alamiah di masyarakat.
Anjuran pemakaian masker dan kebutuhan akan alat perlindungan diri atau APD berisiko meningkatkan limbah medis.
Kalelawar lebih berperan dalam membantu penyerbukan tanaman dan memakan hama serangga dibandingkan untuk menyebarkan berbagai virus - yang sebenarnya terjadi karena ulah manusia sendiri.
Belum ada vaksin atau obat untuk COVID-19; perang melawan virus ini dapat dilakukan lewat perubahan perilaku. Ini cara kerjanya.
Kebanyakan yang meninggal adalah pasien berusia lanjut yang sistem kekebalan tubuhnya lemah dan mengidap komplikasi penyakit sebelum terinfeksi virus ini seperti diabetes, hipertensi, dan jantung.
Mendeteksi semua orang yang terkena COVID-19 merupakan masalah global. Ada terlalu banyak penyakit infeksi saluran pernapasan yang ada, seperti pilek dan flu, yang terjadi di berbagai negara.
Adanya infeksi yang berat pada manusia akibat dari kuman yang lazimnya mengenai hewan adalah bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya ada wabah SARS-CoV dan MERS-CoV.
Secara historis vaksin butuh 2-5 tahun untuk dikembangkan. Tapi dengan upaya global dan pengalaman membuat vaksin virus corona pada masa lalu, vaksin ini potensial bisa dikembangkan lebih cepat.



















