Articles on rumah sakit
Displaying 1 - 20 of 22 articles
Pro dan kontra mewarnai wacana pemerintah menambah penilaian mutu rumah sakit berbasis kesembuhan pasien. Ini tanggapan akademisi.
Pendidikan kedokteran mengajarkan kode etik berempati kepada pasien. Namun, budaya kerja yang buruk berisiko mengikis empati SDM kesehatan terhadap pasien.
Tunjangan bagi dokter spesialis saja tidak bisa menangani ketimpangan distribusi tenaga ahli di pelosok daerah. Analisis ini memaparkan alasannya.
BPJS Jutaan Warga Terputus: Pembaruan Data atau Eliminasi Hak Warga?
CC BY48.3 MB (download)
Pembaruan data peserta BPJS PBI ke dalam sistem DTSEN menuai polemik karena mengorbankan faskes dan pasien. Bagaimana proses mitigasi data BPJS Kesehatah yang ideal?
Alih fungsi kusta jadi museum bisa meningkatkan upaya menghilangkan stigma, Tapi pendekatannya sulit diadaptasi Indonesia karena keterbatasan dana RS dan birokrasi.
Ujian kompetensi ini juga mengubah konsentrasi pengajaran dosen dan titik tekan pendidikan di program studi.
Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan besar pada berbagai kehidupan manusia termasuk cara kita berinteraksi, bersosialisasi, bekerja termasuk dalam mengakses pelayanan kesehatan.
Berkaca dari efisiensi dan fleksibilitas yang ditawarkan, bukan tidak mungkin setelah pandemi pun konsep “home-spital” akan terus menjadi tren di masyarakat, meski hanya untuk kasus-kasus ringan.
Program layanan kesehatan preventif yang sudah dijalankan pada saat ini masih belum efektif dan kurang mendapatkan prioritas sehingga kenjangan terus terjadi.
Meski banyak manfaat, pelayanan perawatan virtual belum didukung regulasi dan infrastruktur telekomunikasi yang memadai.
Upaya yang lebih penting yang harus kita lakukan adalah pencegahan di tingkat masyarakat. Karena garda terdepan pencegahan justru masyarakat, baik sebelum atau setelah sakit COVID.
Perbedaan yang signifikan dalam kuantitas dan kualitas fasilitas dan layanan rumah sakit untuk perawatan COVID-19 telah berkontribusi pada peningkatan risiko bagi pekerja medis.
Ketika angka keterisian tempat tidur rumah sakit telah di atas 85%, maka operasional dan kualitas layanan rumah sakit akan terganggu.
Dari segi aturan, sebenarnya kita telah memiliki sebuah instrumen kebijakan untuk mengatasi permasalahan ini yakni Permenkes No. 19 Tahun 2016 tentang sistem penanggulangan gawat darurat terpadu.
Setelah hampir setahun perang melawan COVID-19, penyebab tingginya angka kematian tenaga kesehatan menjadi jauh lebih kompleks.
Di tengah laju virus yang makin cepat dan penyebaran yang makin luas, kita butuh data yang akurat, kebijakan dan kepemimpinan yang mampu menjawab dampak wabah ini berdasarkan pertimbangan sains.
Strategi utama adalah segera menekan pertumbuhan kasus baru Covid-19 di masyarakat agar rumah sakit tidak kewalahan menampung pasien.
Mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas penanganan COVID-19 jangan sampai mengorbankan pasien lain dengan penyakit diluar COVID-19 yang tetap memerlukan pengobatan dan tidak berkurang jumlahnya.
Anjuran pemakaian masker dan kebutuhan akan alat perlindungan diri atau APD berisiko meningkatkan limbah medis.
Dengan pengendalian infeksi di tingkat rumah sakit dan pemberian pelayanan yang efektif akan lebih terkontrol pada akhirnya akan meningkatkan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.



















