Articles on PLTS
Displaying 1 - 20 of 26 articles
Ambisi 100 GW PLTS Prabowo menghadapi tembok besar ‘fossil lock-in’. Keterikatan kontrak PLTU dan ‘subsidi tersembunyi’ batu bara menyulitkan keberhasilan transisi energi terbarukan.
CC BY49.3 MB (download)
Berada di zona khatulistiwa membuat Indonesia memiliki modal sinar matahari yang melimpah. Namun keterbatasan infrastruktur dan ketidakpastian regulasi membuat energi surya belum bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
Indonesia tidak akan mampu membangun industri hijau jika tiap sektor masih jalan masing-masing
Keberhasilan program PLTS 100GW bergantung pada tata kelola kelembagaan dan pendanaan, termasuk kepastian kebijakan, koordinasi, skema pembiayaan, pelibatan masyarakat
Konsumen di beberapa negara sudah mulai menikmati listrik gratis ketika sumber energi terbarukan menghasilkan kelebihan daya. Sementara Indonesia masih bergulat dengan isu mati listrik atau listrik padam.
Jika tak bisa memenuhi aspek berkeadilan, maka proyek transisi energi yang digembar-gemborkan ‘hijau’, tak ada bedanya dibandingkan proyek energi kotor lainnya.
Ketegangan geopolitik global membuat Indonesia rentan krisis energi karena masih bergantung pada impor minyak dan gas.
Industri modul surya Indonesia malah lesu di tengah peluang pasar global yang semakin terbuka. Jika ingin menjadi raja modul surya, Indonesia harus mengatasi berbagai hambatan regulasi dan teknis.
Pemerintah tak boleh mengabaikan pembangunan persepsi positif energi terbarukan yang pas dengan semua tipe media.
Indonesia jangan sampai hanya menjadi pasar dari panel surya produk impor. Pemerintah perlu merencanakan produksi miliaran panel surya di dalam negeri sesegera mungkin.
Riset membuktikan Indonesia bisa mencukupi 100% energi bersihnya dari PLTS.
Meski telah menyinggung rencana transisi energi, visi-misi para kandidat masih memiliki beberapa kekurangan terutama dalam target energi bersih dan pemerataan aksesnya.
Konflik Rempang menunjukkan bahwa unjuk gigi energi bersih negara-negara global justru menciptakan “zona pengorbanan” di negara-negara berkembang.
Konflik Rempang menunjukkan bahwa unjuk gigi energi bersih negara-negara global justru menciptakan “zona pengorbanan” di negara-negara berkembang.
Laut khatulistiwa yang tenang bisa menjadi alternatif terandal untuk panen energi surya besar-besaran dari laut.
Panel surya bisa jadi tempat yang cocok untuk satwa-satwa beristirahat, berlindung, dan berkembang biak – berpotensi menambah kesuburan lahan yang bermanfaat bagi petani.
Pada 2030, energi bersih akan menyumbang 51% kapasitas setrum Sulawesi.
Tanpa pendanaan dan transfer wawasan, proyek energi terbarukan di daerah terpencil . NGO dapat menjadi penengah antara pemerintah, masyarakat, dan pebisnis demi menjamin proyek terus berjalan.
Indonesia dan Singapura bisa membangun kerja sama kelistrikan tenaga surya yang saling menguntungkan. Laragan ekspor listrik bisa mengancam hal ini.
Indonesia dapat mengkombinasikan PLTS berskala besar dengan PLTA pumped storage sebagai fasilitas penyimpanan energi yang ramah lingkungan.



















