Articles on komunikasi sains
Displaying all articles
Label ‘chemical-free’ itu mustahil secara sains. Kemofobia lahir dari bias otak yang mengagungkan bahan alami, padahal dosis yang menentukan bahaya. Sains butuh narasi menarik untuk lawan sensasi.
The Conversation Indonesia (TCID) menyepakati kemitraan strategis dengan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi.
Diskursus tentang “matinya kepakaran” ramai di media sosial. Orang-orang lebih mempercayai influencer alih-alih mencari para pakar. Apakah benar kepercayaan terhadap para pakar telah ‘mati’?
Praktik sains terbuka dapat berdampak secara langsung pada cara saintis (ilmuwan) berkomunikasi dengan masyarakat luas sehingga memperkuat literasi publik. Mengapa demikian?
Melalui komunikasi sains, informasi ilmu pengetahuan dapat disampaikan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami.
Wacana kualitas sains ini menonjol sejak diskusi publik ramai membahas tentang topik yang mempunyai dampak sosial yang tinggi seperti perubahan iklim, keraguan vaksinasi atau pandemi COVID-19.
Puisi mungkin tampak seperti cara yang aneh untuk mengomunikasikan penelitian sains, tetapi bentuk sastra dapat membantu melibatkan banyak orang.
Sedikit dosen yang bersedia membagikan hasil riset dengan cara yang lebih mudah diakses dan dipahami. Mereka seakan lupa bahwa masyarakat kesulitan dalam memahami analisis mereka dalam jurnal ilmiah.
Lewat penghargaan ini, kami mengharapkan kolaborasi yang makin manis lagi antara The Conversation Indonesia dengan para ahli, ilmuwan, dan akademisi pada tahun-tahun mendatang.
Komunikasi yang baik tentang perubahan iklim membutuhkan lebih dari sekadar pesan-pesan yang memperingatkan dampak menakutkan dari semakin panasnya planet Bumi.
Anda tidak harus menjadi ahli untuk menjadi pendukung vaksinasi yang efektif. Berikut adalah beberapa kiat jika berhadapan dengan orang yang tidak yakin jika dia harus memvaksinasi anak-anaknya.
Memakai pendekatan agresif dalam komunikasi sains berkemungkinan mengurangi kredibilitas ilmuwan di mata orang awam.
Kita memproses informasi visual dengan sangat cepat jika dibandingkan dengan teks. Kebenaran vaksinasi, genom, dan isu kesehatan lainnya lebih efektif disampaikan melalui gambar grafis.












