Articles on ASEAN
Displaying 21 - 40 of 57 articles
Potensi terbesar dari penggunaan AI adalah pada sektor pertumbuhan ekonomi.
Tidak bergabung BRICS adalah keputusan yang paling tepat, bijak dan masuk akal bagi Indonesia. Indonesia tidak boleh mempertaruhkan hubungan diplomasi baiknya dengan pihak manapun.
Pemberantasan penangkapan ikan ilegal hanya akan menjadi pertempuran yang selalu berakhir pada kekalahan tanpa komitmen finansial dari negara anggota.
Saatnya ASEAN mengevaluasi kembali implementasi 5 Poin Konsensus dan mencari cara yang lebih efektif untuk memberikan tekanan pada Junta militer Myanmar.
Konsensus politik regional ASEAN harus diwujudkan tidak hanya untuk mendukung kemajuan ekonomi Myanmar, tetapi juga untuk implementasi yang konkret dari Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Ketimpangan digital bisa menghambat ekonomi inklusif masyarakat ASEAN.
Keterampilan adalah pilar penting terciptanya basis pasar tunggal seiring perkembangan teknologi, industri dan permintaan di ASEAN. Sayangnya, masih terdapat kesenjangan keterampilan di kawasan.
Sistem tata kelola pekerja migrran oleh pemerintah Indonesia masih bermasalah. Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa dari sekitar 9 juta pekerja migran, baru setengahnya yang berstatus legal.
Indonesia dapat menjadikan Keketuaan ASEAN tahun ini sebagai peluang yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga kawasan secara keseluruhan.
Saat ini, kepentingan Indonesia seharusnya adalah menghentikan agresi dan perang yang dilakukan Rusia.
Indonesia dan Singapura bisa membangun kerja sama kelistrikan tenaga surya yang saling menguntungkan. Laragan ekspor listrik bisa mengancam hal ini.
Keengganan Indonesia untuk bersikap tegas dalam konflik Cina-Taiwan menunjukkan bahwa secara ekonomi, Indonesia masih sangat bergantung pada Cina.
Indonesia dapat memulai dan mendorong pendekatan militer dengan Myanmar, sehingga Myanmar dapat mempertimbangkan contoh reformasi militer Indonesia.
Peningkatan aktivitas militer di Selat Taiwan akan mempengaruhi dinamika politik dan ekonomi di Asia Tenggara.
Selesai dari presidensi G20 tahun ini, sorot mata dunia akan kembali mengarah pada Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023.
Perdebatan mengenai bahasa mana yang layak jadi ‘bahasa resmi kedua’ ASEAN sebaiknya tidak membuat kita lupa bahwa Asia Tenggara mempunyai keanekaragaman bahasa dan budaya yang kaya.
Poin utamanya bukanlah pada kemampuan Indonesia sendiri, namun lebih kepada kemauan Indonesia untuk mengambil inisatif.
Indonesia telah memiliki fondasi yang relatif dalam pertahanan siber, namun ini belum cukup untuk menghadapi pelbagai tantangan pertahanan siber yang terus berkembang.
Bungkam bukan pilihan strategis, baik bagi ASEAN maupun Indonesia
Pemerintah seharusnya bisa mulai mempertimbangkan untuk menyusun strategi upaya perdamaian dan pemberian bantuan luar negeri yang sesuai dengan dan dapat memenuhi kepentingan nasional.



















