- Lecturer in Foreign Policy Analysis, Russia-Eastern European-Eurasian Studies, Department of International Relations, Universitas Airlangga, Universitas Airlangga
Label “tentara bayaran” bagi WNI di militer Rusia dipersoalkan karena definisi hukum dan dampaknya terhadap perlindungan mereka di medan perang.
Selama 18 bulan, Prabowo melakukan 49 kunjungan ke 28 negara. Apa hasilnya bagi Indonesia?
Dampak matinya kepakaran adalah diskusi publik yang mudah terdistorsi dan semakin dangkal, serta sikap masyarakat yang dibentuk oleh informasi tidak utuh.
Keputusan Prabowo pergi ke Beijing di tengah maraknya aksi demonstrasi di dalam negeri mencerminkan rasa ‘fear of missing out’ (FOMO) dalam diplomasi.
Tuduhan “antek asing” yang terus diulang oleh Prabowo dapat menciptakan disinformasi, menutup ruang dialog dan mengancam demokrasi.
Diplomasi ala Prabowo berupaya ‘membangun jembatan’ antara blok Utara dan Selatan sudah usang, berisiko membuat Indonesia kehilangan kepercayaan dari kedua kubu.
Prabowo tegaskan bergabung BRICS bukan anti-Barat dan masih menjunjung diplomasi bebas aktif. Tapi kedekatan dengan Rusia, Cina, Iran membawa risiko bagi Indonesia.
Negara Barat tampaknya mulai kehilangan semangat untuk membela Ukraina dan akan mendorong Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.
Invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlangsung, korban masih terus berjatuhan. Ukraina juga membutuhkan adanya solidaritas dari masyarakat Indonesia.
ICC, walaupun memiliki kewenangan, masih menerapkan standar ganda, terutama pada negara-negara besar. Padahal, putusannya bisa berdampak luas bagi Rusia dan banyak negara di seluruh dunia.
Rusia tidak mungkin berhenti menginvasi, dan Ukraina tidak akan berhenti bertahan.
Saat ini, kepentingan Indonesia seharusnya adalah menghentikan agresi dan perang yang dilakukan Rusia.
Hasil pertemuan Jokowi dengan Putin dan Zelenskky bagi kepentingan global memang belum jelas, tapi paling tidak, dapat mengakomodir kepentingan domestik Indonesia – serta Jokowi sendiri.
Despite vague results of what the shuttle diplomacy will contribute to the world, at least the visits resemble Indonesia’s, if not Jokowi’s, own interest.
Banyaknya akademisi dan mantan diplomat yang cenderung pro-Rusia menunjukkan kurangnya simpati terhadap Ukraina. Sentimen tersebut perlu diubah.
Many academics and former diplomats commenting on Russia’s invasion show a lack of sympathy towards Ukraine. That needs to change.
Sebagian besar negara-negara kecil di Eropa Timur melihat Rusia sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap penderitaan dan kesengsaraan mereka selama pendudukan Uni Soviet.
Sejarah dan kronologi hubungan Rusia-NATO-Ukraina justru menunjukkan bahwa NATO bukanlah isu utama di balik invasi Rusia terhadap Ukraina.
Contact Radityo for
- General
- Media request
- Speaking request
- Consulting / Advising
- Research collaboration
- Research supervision
- Location: Surabaya, Indonesia
- Website
- X (formerly Twitter): @RadityoDharmaP
- Article Feed
- ORCID
- Joined















