Articles on Penipuan
Displaying all articles
Masyarakat pun berhak untuk mengkritik kredibilitas para finfluencer sebagai bagian dari proses berpikir kritis.
Inklusi keuangan memperluas akses layanan keuangan, tetapi kesejahteraan baru tercapai jika akses tersebut didukung literasi, perilaku finansial sehat, dan kebijaksanaan dalam mengelola uang.
Kasus DSI menjadi momentum untuk penguatan literasi finansial, intensifikasi pengawasan industri syariah, dan revitalisasi prinsip etika ekonomi syariah.
Kasus penipuan kerap cuma berhenti di penegakan hukum saja tanpa ganti rugi yang setimpal kepada korbannya. Karena itu pencegahan dari masyarakat sangat penting.
Dalam kasus Ayu Puspita, keuntungan yang dijanjikan pelaku adalah jasa WO—bukan imbal hasil investasi. Skema Ponzi yang tak diimbangi manajemen keuangan yang baik dari pelaku berpotensi semakin memperparah kerugian konsumen.
Literasi keuangan saja tak cukup. Bias dalam perilaku keuangan kita bisa dimanfaatkan penipu yang bersembunyi di balik anonimitas internet.
Literasi digital memang masih rendah, tapi korban penipuan investasi bodong tak pandang bulu siapa korbannya. Apa sebab tingginya kerugian investasi bodong di Indonesia dan bagaimana menghalaunya?
“Itu tidak mungkin terjadi pada saya”: mengapa kami pikir kami kebal terhadap penipuan penipu, bagaimana mereka menipu orang biasa - dan mengapa kami menyukai pertunjukan tentang mereka.
Apabila data pribadi jatuh ke tangan yang salah, pemilik data bisa terpapar setidaknya empat risiko kejahatan siber.
Etologi, psikologi sosial and kriminologi bisa menolong kita memahami kenapa manusia berbohong dan penipu beraksi.
Para penipu asmara cerdik, terorganisir dan mempunyai Teknik-teknik mumpuni yang membuat mereka sangat berhasil. Tapi selalu ada saja jalan untuk Anda menghindari ditipu oleh sebuah cinta palsu.
Polemik seperti First Travel bisa dihindari jika pemerintah mau menerapkan prinsip keadilan restoratif dalam hukum pidana.











