Articles on Linguistik
Displaying 1 - 20 of 33 articles
CC BY35.8 MB (download)
Fenomena tokoh publik dan figur politik yang mengumpat di ruang publik kerap memicu kontroversi. Secara norma sosial, tindakan ini dianggap tidak etis dan bahkan sering melekat pada cap negatif. Seakan-akan…
Sebuah perangkat komputasi dengan algoritma yang dirancang khusus untuk merekonstruksi teks pada Batu Singapura kini siap digunakan.
Publik menyoroti masuknya kata ‘kapitil’ dalam KBBI dan diperkenalkannya ejaan ‘Tailan’ menggantikan ‘Thailand’. Mengapa kita bereaksi terhadap perubahan kata?
Tanaman adat dan nama-namanya di Alor, NTT, membuka kotak harta karun rahasia medis dan budaya. Apa saja tanaman-tanaman tersebut dan apa kegunaannya?
Hanya dengan mengalami, kita bisa memiliki kata untuk membicarakan sebuah hal atau pengalaman.
Kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa bukan sekadar soal keterampilan, tapi juga rahasia awet muda.
Dinamika bahasa di ruang publik, seperti istilah ‘nyahroni’, menjadi cermin praktik perlawanan rakyat melalui kreativitas linguistik.
Normalisasi bahasa militer dalam ruang sipil bisa menyimpan risiko besar terhadap budaya komunikasi dan cara kita memandang hubungan sosial.
Meski kata-kata kasar dianggap tidak sopan, tetapi tetap saja terdengar digunakan dalam interaksi sehari-hari. Mengapa kata-kata tersebut terus terucap?
Beberapa bahasa di dunia sedang menghadapi kepunahan dengan cepat. Dokumentasi Bahasa membantu kita menjaga dan melestarikannya.
Pertanyaan lumrah, seperti “Apa kabar?”, “Sudah makan, belum?”, “Mau pergi ke mana?”, dan sebagainya, dapat dipersepsikan lain dalam konteks budaya yang berbeda.
Bahasa terikat dengan budaya dan pandangan dunia (‘worldview’) si penutur. Sehingga, terdapat beberapa kata dalam satu bahasa yang tidak ada padanannya dalam bahasa lain.
Bahasa “Jaksel” sering dianggap cerminan tingkat pendidikan dan kelas sosial yang tinggi. Bisa jadi itu benar, tapi fenomena ini bisa dikaji lebih dalam dari lensa sejarah, tata ruang, dan kebahasaan.
Terlalu cepat merespons dengan ‘Oh ya, aku juga mengalaminya’ membuat percakapan jadi menjenuhkan dan membuat temanmu merasa tidak didengarkan sejak awal.
“Suara batin” kita berkembang seiring kita menjadi lebih terampil membaca dalam hati.
Walaupun ada perkembangan dalam penerimaan keragaman linguistik di masyarakat, kadang-kadang film masih mengasosiasikan bahasa asing dengan sesuatu yang jahat.
Promosi bahasa daerah kepada masyarakat, pelajar, dan anak muda perlu menekankan bahwa bahasa daerah adalah “aset” dalam berkomunikasi, bukan hanya beban warisan.
Seorang ilmuwan bahasa menjelaskan bahwa berbicara tidak pernah diciptakan tetapi telah berkembang selama ratusan ribu tahun.
Istilah atau tagar ‘#healing’ semakin populer di kalangan anak muda dan netizen Indonesia untuk menggambarkan jalan-jalan atau mengunggah foto liburan di media sosial.
Selain penggunaan narasi yang manipulatif dengan tujuan menenangkan publik, terdapat juga narasi di mana pemerintah menggunakan istilah-istilah metafora yang diskriminatif.



















