Articles on Konflik Rusia-Ukraina
Displaying all articles
Di bawah pemerintahan Prabowo nanti, bagaimana Indonesia akan menyeimbangkan hubungan baik dengan Rusia dan Ukraina di tengah pertikaian kedua negara tersebut?
Di Indonesia, narasi pro-Rusia berkaitan dengan keyakinan konspiratif antisemit (prasangka negatif atau kebencian terhadap orang Yahudi).
Invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlangsung, korban masih terus berjatuhan. Ukraina juga membutuhkan adanya solidaritas dari masyarakat Indonesia.
Boikot konsumen atas krisis Gaza adalah yang terbaru dalam serangkaian boikot konsumen. Inilah saatnya membuat aksi seperti ini efektif.
Kematian Prigozhin mengakhiri pergerakannya sebagai penantang terhadap Putin dan militer Rusia. Kematiannya akan berdampak pada peperangan di Ukraina dan kondisi domestik Rusia
Dengan meningkatnya ketegangan dengan Rusia dan Cina, jelas ada kebutuhan dari NATO untuk bekerja sama dengan kelompok negara yang lebih besar untuk melawan keduanya secara efektif, termasuk di Asia.
Kebangkitan Cina sebagai negara adidaya lamban laun bisa mengubah lanskap geopolitik dunia dan menjadi kekuatan global yang menantang dominasi AS.
Hubungan Cina dan Rusia terlihat rumit. Tetapi keputusan Cina untuk mendukung Rusia dalam perang di Ukraina pada akhirnya bermuara pada kepentingan politik Cina sendiri.
Rusia tidak mungkin berhenti menginvasi, dan Ukraina tidak akan berhenti bertahan.
Kedua kubu menggunakan media dengan cara yang sangat berbeda selama konflik: Zelensky dengan mencari dukungan, Putin dengan membungkam perbedaan berpendapat.
Resor di seluruh dunia “kehilangan” wisatawan Rusia yang terkenal royal menghabiskan uangnya. Kini destinasi pariwisata tergopoh-gopoh mencari pengganti mereka.
Para ahli membahas implikasi dari default utang Rusia terhadap pasar keuangan global dan reputasi Rusia
Berbagai program terkait diversifikasi pangan yang sudah dilaksanakan sejak lama oleh pemerintah seharusnya dapat dilaksanakan secara konsisten dan diperbesar sasaran dan volume kegiatannya.
KTT G20 merupakan momentum bagi Indonesia untuk dapat menjadi mediator perdamaian bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina.
Konflik Rusia-Ukraina melibatkan tiga pemimpin kunci, yang masing-masing memiliki karakter kepemimpinan berbeda dalam menghadapi krisis.
Hak dan kemudahan untuk mencari suaka di Eropa yang didapat pengungsi Ukraina tidak dirasakan oleh pengungsi lain yang datang dari luar Eropa.
Usaha Uni Eropa untuk mengurangi pengaruh Rusia di kawasan melalui sanksi ekonomi tidak efektif menekan agresivitas Rusia karena juga akan merugikan negara-negara pemberi sanksi.
Indonesia juga harus jeli melihat peluang ekonomi yang dapat terjadi sebagai implikasi dari konflik kedua negara tersebut.

















