Articles on deradikalisasi
Displaying all articles
Alih-alih menghukum, kerangka keadilan transformatif menggerakkan masyarakat sebagai pihak yang memperjuangkan pemulihan relasi. Cerita Hendro, seorang korban terorisme, adalah contohnya.
Dalam pencegahan dan penanggulangan ekstremisme dan terorisme, para mantan ekstremis mulai dipandang sebagai “agen perubahan sosial” atau “mitra deradikalisasi” yang dapat dilibatkan.
Kematian dan penangkapan para petinggi kelompok lambat laun memudarkan gairah jihadis para anggota MIT.
Membaca sastra menjadi pilihan yang patut untuk dicoba untuk menumbuhkan ruang-ruang empati dan kepedulian terhadap sesama.
Penyusupan JI ke dalam lembaga atau organisasi resmi sudah dapat dibaca melalui arah organisasi JI sejak 2010 hingga 2018 di bawah kepemimpinan Para Wijayanto.]
Tindakan perempuan dalam aksi terorisme masih lebih berat terkait pada posisi mereka dengan segenap situasi yang melingkupi dirinya sebagai penganut agama dan perempuan yang taat.
Penanganan secara komprehensif mencakup penentuan instrumen penilaian tingkat radikalisasi dan risiko keamanan, penanganan dalam lapas, pembinaan napi, dan program reintegrasi pasca bebas.
Pelaku kunci di balik keberhasilan banyak program deradikalisasi adalah organisasi masyarakat sipil atau [organisasi masyarakat non-profit]
Di luar pertimbangan kemanusian, ada risiko lain yang dihadapi bila keluarga bekas anggota ISIS – khususnya anak-anak – tidak dipulangkan.
Usaha menangkal radikalisme memerlukan penanganan dari sisi psikologis dan bukan ideologis.
Proses radikalisasi adalah suatu sistem kompleks yang tidak dapat hanya direduksi sebagai sesuatu yang hanya ada pada otak, perilaku, dan lingkungan. Ia berada pada irisan ketiganya.










