Banjir Sumatra nyaris nihil kepemimpinan negara. Ribuan relawan turun, tapi negara justru seperti tak hadir sebagai otoritas. Apa dampaknya jika tanggap darurat dibiarkan tanpa arah?
- Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
CC BY83.2 MB (download)
Pagi di 26 Desember 2004, dunia dikejutkan oleh salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah modern: tsunami Aceh. Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,1-9,3 skala Richter ini mengguncang dasar Samudra Hindia…
Malgré leur proximité avec l'épicentre du tsunami de 2004, les habitants de Simeulue ont presque tous survécu. Car ils ont appris enfants quoi faire en cas de tsunami dans des poèmes et chansons.
Building monuments is one way to preserve the memory of the disaster. However, many survivors feel less connected to the monuments because they do not evoke their personal memories of the tsunami.
Technology and globalisation help diversify the channels for the smong narrative but also risk eroding this local wisdom – if we do not try to preserve it.
Salah satu usaha untuk merawat memori atas bencana adalah dengan membangun monumen. Namun, banyak monumen bencana di Aceh yang justru tidak memicu ingatan penyintas akan tsunami. Mengapa demikian?
Perkembangan teknologi dan globalisasi tak hanya membuat saluran narasi ‘smong’ semakin beragam, tetapi juga berisiko memudarkan kearifan lokal ini jika kita tidak berupaya merawatnya.
Masyarakat Indonesia membutuhkan komunikasi risiko bencana yang memadukan pengetahuan ilmiah dengan nilai-nilai lokal untuk membangun budaya kesadaran dan kesiapsiagaan berkelanjutan.
Contact Muzayin for
- General
- Media request
- Speaking request
- Consulting / Advising
- Research collaboration
- Research supervision
- Location: Yogyakarta, Indonesia
- Article Feed
- ORCID
- Joined







