● Critical mass menegaskan pesepeda sebagai bagian dari lalu lintas kota.
● Aksi ini menantang dominasi kendaraan bermotor dalam tata ruang kota.
● Ruang jalan perlu dirancang lebih aman, inklusif, dan berkeadilan.
“Lagi ada event apa ya? Banyak banget sepeda, sampai tiga jalur. Jujur bahaya dan bikin macet 🙃.”
Ungkapan seperti ini kerap muncul di media sosial ketika ratusan pesepeda turun ke jalan pada Jumat terakhir setiap bulan di Jakarta. Bagi pengguna mobil atau motor yang sedang pulang kerja, rombongan sepeda yang memenuhi jalan tentu bisa terasa mengganggu.
Read more: Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup
Mengapa mereka sengaja bersepeda bersama dalam jumlah besar dan mengambil ruang di jalan raya? Apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan?
Aksi semacam ini dikenal sebagai critical mass, sebuah gerakan bersepeda bersama yang bertujuan menunjukkan bahwa pesepeda juga merupakan bagian dari lalu lintas dan berhak menggunakan ruang jalan.
Namun, critical mass bukan sekadar acara kumpul-kumpul pesepeda. Di balik kemacetan sesaat yang ditimbulkannya, ada pesan yang lebih besar: siapa sebenarnya yang berhak menggunakan ruang jalan kota?
Bukan sekadar gowes bareng
Critical Mass merupakan kegiatan bersepeda bersama yang umumnya berlangsung pada Jumat terakhir setiap bulan (Last Friday of the Month). Tidak ada organisasi pusat, pendaftaran, atau pemimpin formal. Pesepeda cukup berkumpul dan kemudian bergerak bersama di jalan raya.
Gerakan ini bermula di San Francisco, Amerika Serikat, pada 1992. Saat itu, sekelompok pesepeda yang merasa tidak aman bersepeda di tengah lalu lintas memilih pulang bersama dalam satu rombongan. Dari sinilah muncul gagasan yang kemudian dikenal melalui slogan: “We are not blocking traffic, we are traffic.”
Pesannya sederhana, bahwa pesepeda bukan penghalang lalu lintas. Mereka juga pengguna jalan.
Gerakan ini kemudian menyebar ke berbagai kota di dunia. Di Indonesia, critical mass juga berkembang melalui komunitas-komunitas sepeda. Sejarah lokalnya memang tidak terdokumentasi sebaik sejarah gerakan di San Francisco, tetapi sejumlah sumber komunitas menyebut kegiatan ini mulai dimunculkan oleh komunitas fixed gear IDFixed pada Februari 2012 di Jakarta.
Read more: Lari maraton sambil kritik pemerintah: Saat warga merebut kembali ruang publik dalam JAKIM 2026
Mengapa pesepeda harus memenuhi jalan?
Bayangkan perjalanan sehari-hari di kota. Ketika berangkat kerja atau kuliah, sebagian besar ruang jalan mungkin digunakan mobil dan motor. Lampu lalu lintas, marka jalan, lebar lajur, hingga prioritas di persimpangan pada akhirnya membentuk pengalaman kita tentang siapa yang dianggap sebagai pengguna jalan “utama”. Itu semua bukan kebetulan.
Sosiolog Mimi Sheller dan John Urry menyebut kondisi tersebut sebagai automobility—sebuah sistem sosial yang membuat kehidupan perkotaan semakin terorganisasi di sekitar kendaraan bermotor. Mobil bukan hanya alat transportasi, tetapi ikut membentuk bagaimana jalan, ruang publik, waktu perjalanan, bahkan aktivitas sehari-hari diatur.
Akibatnya, orang yang berjalan kaki atau bersepeda sering harus menyesuaikan diri dengan sistem yang sejak awal lebih berpihak pada kendaraan bermotor.
Di sini lah critical mass mengambil peran dalam dimensi proses. Ketika satu pesepeda berada di jalan, ia mudah dianggap menghambat kendaraan. Namun ketika ratusan pesepeda hadir bersamaan, keberadaan mereka menjadi sulit diabaikan.
Mereka sedang membuat sesuatu yang biasanya tidak terlihat menjadi terlihat–bahwa pesepeda juga bagian dari lalu lintas kota.
Read more: Jalur sepeda disebut sebagai biang keladi kemacetan kota – ini kenyataannya
Dari budaya hingga kebijakan
Dalam perspektif sosiologi perubahan sosial, aksi seperti ini dapat dilihat sebagai bagian dari proses untuk mengubah struktur dan kultur kota.
Struktur mencakup hal-hal yang terlihat dan formal, seperti jalan, jalur sepeda, aturan lalu lintas, dan kebijakan transportasi. Sementara kultur mencakup cara masyarakat memandang pengguna jalan lain.
Selama ini, anggapan bahwa “jalan adalah milik kendaraan bermotor” bisa menjadi bagian dari kultur tersebut. Critical mass mencoba mengganggu anggapan itu.
Perubahan struktur kemudian dapat terjadi ketika tuntutan publik mendorong pemerintah memperbaiki infrastruktur.
Riset terbaru menunjukkan bahwa desain infrastruktur memang berpengaruh terhadap keselamatan pesepeda. Tinjauan sistematis terhadap 104 studi menemukan bahwa jalur sepeda yang terpisah secara fisik dari kendaraan bermotor merupakan salah satu desain yang paling konsisten terkait dengan penurunan risiko kecelakaan.
Persoalannya sekarang bukan sekadar apakah pesepeda “boleh” menggunakan jalan, melainkan apakah kota menyediakan ruang yang aman bagi mereka.
Kemacetan sebagai pesan
Tentu, kritik terhadap critical mass juga tidak bisa diabaikan. Ketika ratusan pesepeda memenuhi jalan, pengguna kendaraan lain memang dapat mengalami perlambatan atau merasa tidak nyaman. Keselamatan dan hak pengguna jalan lain tetap perlu diperhitungkan.
Namun, kemacetan sesaat itu juga dapat dibaca sebagai sebuah pesan visual.
Setiap hari, kemacetan akibat mobil dan motor dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan kota. Ketika kemacetan itu muncul karena ratusan sepeda, kita tiba-tiba menyadarinya.
Melalui critical mass, warga bukan hanya merayakan euforia kumpul-kumpul pesepeda di jalanan, tetapi juga melakukan aksi untuk menagih keadilan ruang yang selama ini terampas akibat tata kota yang terlalu berorientasi pada kendaraan bermotor.
Aksi ini juga dapat dilihat sebagai ajakan bagi masyarakat untuk mendobrak gaya hidup yang lebih sehat dan mewujudkan mobilitas kota yang lebih ramah lingkungan dan berkeadilan. Kemacetan sejenak yang kita temui saat aksi critical mass berlangsung merupakan alarm visual bahwa jalan raya dibangun untuk pergerakan manusia, bukan hanya semata-mata untuk kendaraan bermotor.
